bisangentot

bisangentot

Cerita Perselingkuhan Sopir Dengan Majikan dan Anaknya


Info Cerita Terlengkap | Bisa Ngentot  Info Terbaru  |  Cerita Dewasa  | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot |  Cerita Tante-tante | Seks Bergambar
 







Cerita Perselingkuhan Sopir Dengan Majikan dan Anaknya - Dodi, seorang pribumi bertubuh kekar dengan wajah ramahnya menyambut seorang gadis cantik bermata sipit yang keluar dari pintu gerbang sekolah. dengan ramah Mang Dodi membukakan pintu mobil mempersilahkan gadis cantik itu duduk di dalam. Dengan hati-hati ia menutup pintu kembali, setelah itu ia duduk di belakang kemudi.



“bagaimana sekolahnya non ??” Mang Dodi bertanya sambil menyalakan mobil.



“uhh sebel deh mang Dod, cape, tadi aku..dll dstt dsttt”



Nidya curhat kepada sopir kepercayaannya yang menengok kebelakang.mendengarkan curhat dari Nidya. Memang sudah lama mang Dodi bekerja di keluarga Nidya, semenjak Nidya masih duduk di kelas TK kecil, mang Dodi sudah mengantar jemputnya dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah. Mata Mang Dodi melirik melihat paha mulus yang tersembul, mau tak mau sebagai laki-laki normal mang Dodi menelan ludah yang membanjir melihat kemulusan paha putih yang mengkilap.



“pokoknya hari ini aku sebeeeeelll banget mang Dod , bete deh..” Nidya mengakhiri keluhannya.



“ya sudah.. betenya jangan lama-lama non, nggak baik…”



Mang Dodi menghadap ke depan dan mulai menginjak gas. Dengan mobil pajero sport mang Dodi mengantar Nidya pulang ke rumah dengan selamat. Seorang jongos yang berjaga membukakan pintu besi yang berdiri dengan kokoh dan yang seorang lagi sibuk berkiri kiri dan berkanan-kanan memandu mobil mewah itu. Nidya turun dari mobil kemudian mengangguk ramah kepada dua orang jongos yang menyapa, Mang Dodi mengekori dari belakang mengikuti Nidya masuk ke dalam rumah mewah yang sepi dari yang namanya “keluarga” . Mata Mang Dodi menikmati goyangan pinggul Nidya. Masih terbayang saat Nidya masih TK dulu, ia sering duduk di pangkuannya dan Nidya tertawa saat mang Dodi menggelitiki dan mencubit hidungnya yang mancung. Masih teringat dengan jelas saat Nidya keluar telanjang buat dari dalam kamar mandi, Nidya kecil berlari kepangkuannya dan menangis sambil berkali-kali menunjukkan bebek karetnya



“mang Dod , bek mati.. hu hu hu” , mata mang Dodi melotot bukan ke arah bebek karet yang menciut namun melotot ke arah selangkangan Nidya kecil. jarinya hendak menyentuh bibir vagina Nidya yang masih sangat suci. Tiba-tiba seorang perempuan tua menerobos masuk membawa belanjaan.



“Ehh-um Ehemmmmmm” Mang Dodi salah tingkah karena Mbak Ijah muncul tiba-tiba.



“Dodi mengapa non Nidya menangis ?? kamu apakan hah !!” Mbok Ijah menegur Dodi , matanya menatap curiga.



“MBOKKKKKK… Bek matiiiiii…..” Nidya berlari kearah Mbok Ijah.



“Ohhhh, bebek.. mana sini , biar simbok liat…” Mbok Ijah meniup bebek karet yang menciut, Nidya tersenyum senang.



“Mang.. Mang Dod, mang Dod !! MANGGG !!!” Nidya berteriak keras.



“Uhhh.. e- ehh iya non kenapa ?? ada apa”



Kenangan masa lalu Mang Dodi buyar seketika, ia mengejar ke arah kolam renang, agak keheranan mang Dodi melihat Nidya mematung berdiri pucat pasi, mang Dodi berlari menghampiri.





Mang Dodi “kenapa non ?? kenapa…”



“i-i-itu mang .. itu…”



“yiahh si non, cuma beginian, mang Dod kira ada apaan…” Mang Dodi mencomot ulat bulu di bahu Nidya.



“Uhhh…. “ Nidya bernafas lega.



“Nihh uletnya !!” Mang Dodi pura-pura melempar ulat bulu ke arah Nidya



“Awwww… e-ehh mang bawa kesana ah!! Yee mang Dod !! awas ya!!” Nidya merengut, mang Dodi tertawa.



“mang beliin air kelapa dong…” Nidya mengeluarkan uang dari dompetnya.



“iya…, tapi traktir ya…” goda Mang Dodi cengengesan.



“Iya.. pokoknya beres…” Nidya tersenyum.



“Asikkkkkk….. makasih non…, Non Nidya emang paling baek dah” Mang Dodi memuji.



“udah , nggak usah nge-gombal, sebel…GPL ya” Nidya tersenyum manis.



“beres Nonnnn…” Mang Dodi menjawab dan segera berlari.



Di pinggir kolam renang, dua kursi mengapit sebuah meja bunda dengan sebuah payung yang menaungi. Sementara di tempat yang teduh berjajar kursi santai panjang. Di situlah Nidya duduk bersantai melepas kepenatan di atas kursi santai panjang. Matanya yang sipit terpejam, tangan kirinya menarik rok seragam abu-abunya ke atas, tangan kanan menyusul masuk ke dalam kain segitiga kecil berwarna putih bersih.



“ohhh mang Dodddd….”



Bibirnya mendesis saat angan membawa Nidya menuju sebuah tempat membayangkan nikmatnya kecupan mang Dodi. Dalam khayalnya, Mang Dodi sangat lugu sedangkan Nidya sendiri sangatlah liar hingga mang Dodi mengerang meminta ampun menghadapi keliaran Nidya. Darah muda Nidya mendidih seliar angannya.



“Emmm…..” tubuh Nidya mengerjat menahan nikmat.



“Ahh !!”



Rasa Nikmat disusul dengan terkejut. Mata sipitnya bertatapan dengan mata mang Dodi yang berdiri tercenggang, Nidya menunduk dengan wajah merah padam, malu bukan main, untuk yang pertama kali mang Dodi memergokinya sedang bermasturbasi. Wajah mang Dodi juga sama, merah padam karena nafsu yang memuncak. Angannya kembali ke masa lalu saat ia melihat Nidya kecil telanjang bulat dan berlari ke pangkuannya. Mang Dodi tidak tuli, jelas-jelas ia mendengar Nidya mendesis memanggil namanya, tidak perlu diragukan lagi, laki-laki dalam khayal Nidya adalah dirinya. Setelah menaruh air kelapa di atas meja mang Dodi berlutut di samping kursi malas.



“Non Nidya….” dengan memberanikan diri mang Dodi mengelus betis gadis itu



Karena tidak mendapat penolakan dari Nidya , mang Dodi semakin berani, tangannya mengelus ke atas mengusap paha putih mulus. Reflek Nidya mengapitkan kedua pahanya saat tangan mang Dodi mengusap paha bagian dalam.



“mang Dod…” Nidya merintih dalam gejolak darah mudanya.



Matanya menatap sayu pada mang Dodi yang merenggangkan paha mulusnya, nafasnya tak beraturan dan berat. Tubuhnya yang masih awam menggelinjang dan menghangat. Tubuh Nidya rebah di atas kursi malas dengan dua kaki yang mulus mengangkang lebar.



“ohhhhhh.. mang Dod…hhsssshh” sekali lagi Nidya merintih saat mang Dodi menjatuhkan wajah pada kain segi tiga putih di selangkangannya.



Tubuh Nidya gemetaran seperti sedang meenjalani terapi listrik. Detak jantungnya berdegupan keras memompa darah untuk mengalir lebih kencang melepaskan nikmat dan nafsu yang sempat tertahan. Tangan Nidya membelai kepala mang Dodi. Ia menggigit bibir menahan desah yang hampir keluar saat lidah mang Dodi menyelinap melalui pinggiran celana dalamnya. Aktif, lidah mang Dodi menggeliat-geliat.



“Achhh…!” Nidya mendorong kepala mang Dodi yang lidahnya menoel bibir vaginanya.



“E-Ehhh mang Awww…” Nidya memekik kaget saat mang Dodi menjabret celana dalamnya.



“Hussshhh jangan keras-keras non…, nanti kedengeran loh…” Mang Dodi tersenyum mesum.



“ih Mang Dodi, maen buka aja…seenaknya” Nidya cemberut, ia bangkit sambil menarik rok seragamnya ke bawah.



“supaya lebih asik non.., percaya deh sama mang Dodi..”



Mang Dodi menjatuhkan Nidya kembali ke atas kursi, tangannya menarik rok seragam Nidya dengan paksa ke atas. Mulutnya mengejar belahan bibir vagina Nidya , gadis itu panik menggeser-geserkan pinggulnya menghindari mulut mang Dodi.



“ahhhhhhhh……m-mang Doddd…. Dhiiiii…ihhhh”



Tubuh Nidya lemas di atas kursi. Kecupan dan hisapan rakus mang Dodi membuat gairah darah muda Nidya kembali bergejolak, tubuh Nidya menggelepar dan melenting menikmati keagresifan mulut mang Dodi yang mencecar vaginanya.



“Aaaaa.. ahhhhhh…..” Nidya mendesah



Cairan orgasmenya tumpah kedalam mulut mang Dodi yang rakus menghisap-hisap vaginanya. Nidya merintih tak berdaya, selama ini dalam khayal memang dirinyalah yang liar dan mang Dodi yang lugu dan lemah namun pada kenyataanya justru sebaliknya. Dengan Mudah mang Dodi memeras cairan vagina Nidya bersama dengan luapan kenikmatan. Nidya tak melawan saat mang Dodi meloloskan seragam abu-abu dari pinggangnya. Hanya bra dan pakaian seragam yang melindungi kemulusan tubuh Nidya dari mata mang Dodi.



“Non Nidya cantik sekali..”



Mang Dodi membopong tubuh Nidya, dengan santai ia membawa Nidya masuk ke dalam rumah, lalu menaiki anak tangga dan membawa nona majikannya masuk ke dalam kamar. Semenjak kematian Mbok Ijah setahun yang lalu, suasana rumah menjadi sepi. Nidya salah tingkah saat mang Dodi mendudukkannya di pinggiran ranjang sedangkan mang Dodi duduk di sampingnya. Bibir tebal mang Dodi mengejar Bibir Nidya, dengan mudah mang Dodi merampas Ciuman pertama Nidya.



“Emhh…” Nidya menarik bibirnya, ia menatap sopirnya itu dengan mata sayunya saat tangan kekar mang Dodi melucuti kancing baju seragamnya setelah itu menarik kedua cup branya ke bawah



Sepasang buah dada indah tertopang oleh cup bra berwarna krem. Mata mang Dodi berbinar menatap nanar keindahan sepasang payudara Nidya, ia telah menjadi saksi tumbuhnya sepasang payudara indah di dada Nidya. Dada yang semula rata kemudian mulai berkembang dan terus berkembang dengan indahnya dihiasi sepasang puting merah muda yang runcing. Setelah melepaskan baju dan celana panjang dan celana dalamnya yang dekil, Mang Dodi berlutut di hadapan Nidya, ia mengusap-ngusap paha mulus Nidya yang mengangkang pasrah. Bibir mang Dodi melumat dan mengulum bibir Nidya, tangan kekarnya mengerayang menjelajahi lekuk liku tubuh Nidya yang menggeliut-geliut tak bisa diam geli oleh rasa nikmat. Cumbuan mang Dodi merambat ke leher, pundak bahu dan mengecup ke arah buntalan buah dada sebelah kiri.



“mang….ennnnnnnnhhh…mang Doddddddd” Nidya merengek manja.



Mulut mang Dodi mengunyah puncak dada. Ke mana Nidya berusaha menarik dadanya ke situ pula mulut mang Dodi mengejar. Tak ingin ia melepaskan puncak buah dada Nidya dalam mulut, bahkan saat punggung Nidya jatuh ke belakang, mulut mang Dodi segera mengejar buah dada yang hendak melarikan diri dari mulutnya. Sambil terus menggeluti buah dada Nidya mang Dodi menggusur tubuh mulus Nidya yang menggeliat-geliat kegelian ke tengah ranjang.



“Aaaa. Aah !! hsssh nnnnnhhh” Suara desah tertahan dan rintih kecil mewarnai cumbuan-cumbuan mang Dodi yang semakin panas



Butir-butir keringat meleleh memandikan dua insan berbeda ras yang tengah asik menjalin hubungan terlarang. Menggelinjang tubuh Nidya dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi. Nidya yang berkulit putih mulus menggeliat resah merintih dan mendesah dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi yang meneduhinya.



“mmmm, hssh mang Dod.. ahhh…”



Nidya gelisah saat merasakan tekanan kepala kemaluan mang Dodi pada belahan vaginanya. Mang Dodi menepiskan tangan Nidya yang berusaha mendorong dirinya, entah kenapa ada rasa takut yang mencekam saat Nidya melihat mata mang Dodi yang liar.



“Ahhh..!!” desah kecil Nidya mengiringi tenggelamnya kepala penis mang Dodi.



Bibir vagina Nidya yang mungil melingkari leher penis mang Dodi. Dari usia tentu saja usia Nidya jauh lebih muda, dari warna kulit tentu saja kulit mang Dodi lebih gelap dari kulit Nidya yang putih mulus, dari wajah sudah tentu wajah beringas mang Dodi menang atas cantiknya wajah Nidya. Sekali lagi mang Dodi menekankan penisnya dengan kuat dan Nidya mengerang. Entah sanggup atau tidak vagina Nidya menampung batang di selangkangan Mang Dodi. Satu tusukan kuat menyusul dan Nidya mengaduh kesakitan, bibir vaginanya yang mungil sobek dan selaput daranya robek ditembus batang penis mang Dodi.



“Aduh mang Dod !! Aduh!!sakit ! sakit mang Dod !! sakit !!” tangan Nidya menggapai-gapai menahan pinggul dan dada mang Dodi.



“ENNNNNNNNNGGGHHHHHH..!!!!” suara erangan Nidya terdengar keras saat mang Dodi memaksakan seluruh batangnya masuk ke dalam vaginanya



Selangkangan mang Dodi dan Nidya bersatu, bulu jembut mang Dodi bergesekan dengan bulu jembut Nidya. Nafas Nidya terdengar keras, matanya terpejam menahan sakit yang menyengat. Batang mang Dodi menyesaki liang vaginanya yang sempit peret karena baru kehilangan keperawanannya. Selama ini belum pernah ada benda apapun yang melewati liang senggamanya.



“ Non Nidya, memeknya enak amat, sebenarnya sudah lama mang Dodi pengen nyolok memek Non Nidya, siapa sangka hari ini Mang Dodi bisa melakukannya, percayalah sama mang Dodi Non, sebentar lagi tubuh Non bakal tersentak sentak keenakan he he he he” Mang Dodi menceracau menumpahkan isi hatinya.



“Hsssshhh ahh !! aduh mang.. hsssshhhh!!” Nidya mendesis kesakitan, batang mang Dodi mulai menggenjot.



“Auw-hhh..!!”



Berkali-kali mata sipit Nidya membeliak saat mang Dodi membenamkan batangnya dalam-dalam. Nidya merinding mendengarkan geraman mang Dodi, otot perutnya serasa kram saat batang penis Mang Dodi menusuk dalam. Kecupan dan lumatan gemas mang Dodi pada bibir Nidya yang merekah membuatnya semakin kewalahan.



“Ahhhhh…..”



Mata Nidya Nanar, ada rasa nikmat luar biasa menyela rasa sakit yang mengigit. Untuk yang pertama kali ia merasakan denyut-denyut orgasme akibat sebatang penis yang menumbuki vaginanya, rasanya seperti jiwa terlepas dari raga, melayang ke langit indah berhiaskan tangga pelangi.



“mang Dodddddd….ahhh enak mangggg” erangnya



Nidya mulai meladeni kecupan dan cumbuan mang Dodi. Bibirnya menyambut bibir mang Dodi, kedua tangannya memeluk tubuh kekar yang sedang giat bekerja menumbukkan batang penis ke dalam vaginanya. Mang Dodi mencabut batangnya hingga terlepas dari vagina kemudian kembali mencoblos liang vagina Nidya. Kemudian ditusuk-tusukannya penisnya dengan gencar pada liang yang becek itu dan dicabut lagi.



“ahhh, manggg.. jangan digituin… mang dod..” Nidya merengek manja.



“abis harus digimanain dong ?” Mang Dodi bertanya



Wajah Nidya merona karena terangsang berat sehingga menambah cantik wajahnya.



“Ayo , Nidya bilang sama mang Dod, harus digimanain.” Mang Dodi sengaja menggoda nona majikannya.



“emmm.. digituin mang…” Nidya tersenyum malu.



“digituin gimana yach ? mang Dodi nggak tau tuch “ Mang Dodi tersenyum lebar.



“Ahhnnhh mang Dod jahat !!” Nidya mencubit dada mang Dodi.



“ADOWHH…!!” Mang Dodi mengaduh kesakitan.



“Hiaaaahhh…!!” Nidya mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong mang Dodi.



“Eiiiiitttttt…”



Mang Dodi menangkap tubuh Nidya. Dua insan berbeda ras itu bergulingan dan kembali bercumbu mesra layaknya sepasang pengantin baru. Mang Dodi duduk di pinggiran ranjang, Nidya berdiri memperhatikan batang perkasa di selangkangan sopir setianya. Mang Dodi menarik Nidya untuk berlutut di hadapan batang penisnya.



“Nah sekarang Nidya jilat kontol mamang ya” Mang Dodi mengarahkan Nidya.



“jijik mang.. ihhh…” Nidya masih jijik dengan batang mang Dodi.



“Loh kenapa harus jijik, coba dulu.. ayo…” Mang Dodi membujui Nidya.



“iii – ihhh ngak mau ah , bau” Nidya menolak sambil menutup hidung dengan tangan.



“Ayo .. cobain… dulu…”



Tangan kiri mang Dodi menahan belakang kepala Nidya. Dengan rayu dan sedikit paksaan akhirnya mang Dodi berhasil menjejalkan kepala penisnya ke dalam mulut Nidya. Sang sopir merem melek keenakan.



“Ayo dihisap non.. “ perintah Mang Dodi sambil membelai rambut Nidya.



“Emmm. Mmmhh..” Nidya tak habis pikir, mendadak ia menyukai bau penis mang Dodi, senang menghisap dan juga senang menjilat-jilat batang penis yang besar panjang.



Ada sesuatu di dalam dirinya yang menuntut pelampiasan dari kesepian dan kejenuhannya selama ini. Dari seks pertama dengan sopirnya ini ia merasa mendapat pelampiaskan atas seluruh rasa yang menggebu dalam dada yang membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih lagi. Sesekali Nidya mengangkat wajah cantiknya menatap mang Dodi yang tersenyum kemudian ia kembali menunduk untuk bekerja mengoral penis itu. Dengan lembut lidah Nidya mengulas-ngulas kepala penis mang Dodi sebelum akhirnya mang Dodi membimbingnya untuk menduduki batang penisnya dengan posisi tubuh Nidya memunggunginya.



“jangan takut Non.., dudukin aja.., ntar juga masuk…” Mang Dodi menarik pinggul Nidya untuk turun.



“sebentar mang, Nidya takut…”



Setengah mati Nidya mengumpulkan keberanian.



“rileks aja, anggap aja Non Nidya lagi duduk di pangkuan mang Dod, dulu kan waktu masih kecil non Nidya sering duduk di pangkuan mang Dodi”



Mang Dodi mengecup punggung Nidya perlahan. Dengan hati ragu Nidya menurunkan vaginanya. Mang Dodi membimbing Nidya untuk belajar memasukkan penis ke dalam liang vaginanya.



“ih..”



Nidya mengangkat pinggulnya kembali saat ujung penis mulai tenggelam ke dalam belahan vagina. Geli rasanya saat kepala penis menjilat belahan vagina yang berlendir. Sekali lagi tangan Nidya mengarahkan kepala penis mang Dodi pada belahan vaginanya, kali ini ia menahan rasa geli yang menggelitik saat kepala penis membelah belahan vaginanya. Gemetar seluruh tubuh Nidya menahan sensasi nikmat saat penis mang Dodi tenggelam semakin dalam.



“Ohh mang Dod…!! Mang Dod..”



Wajah Nidya terangkat ke atas menahan nikmat. Vaginanya berkedutan dan meremas batang penis mang Dodi, dengan gerakan indah luar biasa Nidya menggeliat, tubuhnya mulai bekerja mengikuti panduan dari mang Dodi yang terus mengajari sambil memainkan buah dada Nidya. Belum begitu lama Nidya menaik turunkan pinggul, ia merintih kecil, Vaginanya kembali berdenyut-denyut , rasa nikmat dimulai dari daerah panggul kemudian menyebar ke seluruh tubuh moleknya yang berpeluh. Mang Dodi memeluk erat-erat tubuh Nidya yang tengah orgasme. Sebuah gigitan gemas bersarang di pundak Nidya meninggalkan bekas gigitan merah. Tanpa melepaskan pelukan dari tubuh Nidya, mang Dodi beringsut ke tengah ranjang.



“Ohhh !! ennnnhh aaaa.. Ahhhhh…”



Tubuh Nidya melambung turun naik di atas tubuh mang Dodi, sungguh indah buah dadanya terpantul di dada mengikuti tubuhnya yang melambung-lambung. Suara derit ranjang mengiringi suara nafas berat, desah dan rintihan Nidya dalam kamar, suara geram gemas mang Dodi sesekali terdengar di sela-sela kesibukan meluncurkan batang penisnya ke atas pada sebuah lubang mungil yang menjadi target bulan-bulatan penis besarnya. Wajah Nidya seperti tengah menahan derita, namun sebenarnya bukan derita yang sedang dirasakan olehnya, ia tengah menahan rasa nikmat akibat sodokan-sodokan batang penis mang Dodi yang menghujam keras hingga terasa ke ulu hati. Bercak – bercak darah perawan menodai seprai putih. Berkali-kali Batang penis besar milik seorang sopir bernama Dodi menuai kemenangan atas vagina nona majikannya yang keturunan Chinese bernama Nidya. Sebelum akhirnya penis besar itu mengisi liang vagina Nidya dengan sperma. Hanya suara nafas Nidya dan Mang Dodi yang terdengar memburu di dalam kamar. Dengan sebuah handuk mang Dodi mengeringkan tubuh Nidya yang berpeluh. Hampir tiga jam lamanya mang Dodi menikmati sempitnya vagina dan kemulusan tubuh Nidya. Setengah jam kemudian mang Dodi keluar dari dalam kamar meninggalkan Nidya yang termenung kebingungan. Baju piyama berwarna pink menyembunyikan tubuhnya dari ketelanjangan. Papa dan Mama Nidya baru pulang jam 6 sore tanpa merasa curiga sedikitpun apa yang baru saja terjadi.
Beberapa hari kemudian, malam hari.




Pintu kamar Nidya dibuka oleh seseorang yang hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, orang itu tidak lain adalah Mang Dodi yang mengendap-endap masuk ke dalam kamar nona majikannya. Dengan wajah mesum ia mengunci pintu, di atas ranjang Nidya menoleh kepadanya dengan wajah yang bingung campur malu. Mang Dodi menggusur selimut yang membungkus tubuh Nidya, setelah melepaskan sarung, kaos oblong dan celana dalam dekil, ia naik keatas ranjang meneduhi tubuh Nidya yang masih terbalut piyama berwarna pink.



“Mang Dod.. emmm…” Nidya mendesah menahan beban tubuh mang Dodi yang menindihnya,



Bibirnya menyambut bibir mang Dodi , mesra keduanya berciuman bagaikan sepasang pengantin baru yang berbeda usia dan ras dimana seorang dari ras mayoritas memangsa dan menikmati cantik dan mulusnya seorang gadis ras minoritas. Satu demi satu kancing baju piyama Nidya terlepas, mata mang Dodi melotot melihat buah dada yang membuntal, padat dan kenyal terasa saat mang Dodi meremas buah dada sebelah kiri.



“Emmmhh mang Dod…”



Nidya menggeliat – geliat resah, sementara mulut mang Dodi semakin rakus dan kasar menghisapi buah dadanya. Sesekali Nidya merintih merasakan gigitan-gigitan gemas mang Dodi pada putting susunya.



“Ah..mmmmhhhh…”



Nidya menggeser-geserkan tubuhnya, kemanapun tubuhnya bergeser kesitu pula kepala mang Dodi mengejar buah dadanya. Sepasang buah dada Nidya yang ranum menjadi bulan-bulanan mang Dodi , begitu ganas mang Dodi menciumi buntalan buah dada dan menghisap kuat puncak payudara Nidya, setelah puas menggeluti sepasang buah dada yang membuntal, mulut mang Dodi melumat bibir Nidya. Setelah itu cumbuan mang Dodi merayap turun.pada leher, melewati belahan payudara, bermain pada perut dan pinggul dan terus turun mengejar milik Nidya yang paling sensitif.



“Ohh Non Nidya, indah sekali memek kamu Non…”



Mata Mang Dodi menatap tajam pada belahan bibir vagina Nidya, bulu-bulu lembut menghiasi vagina Nidya menambah indah pemandangan di daerah kewanitaannya. Mang Dodi mengendus-ngendus aroma vagina Nidya.



“Unnhhh .. ,aaa.. mang Dodddd.. mang Dodddd…” Nidya merengek saat hembusan-hembusan nafas hangat yang memburu menerpa vaginanya



Nidya mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar seolah Nidya ingin memperlihatkan seluruh keindahan yang dimilikinya kepada mang Dodi. Tubuh moleknya melenting menggeliat dan menggelinjang dengan indah saat vaginanya menjadi santapan mang Dodi yang rakus.



“Ussshhhh.. hssssshhhhhhhh… ahhhhhhh” tiba-tiba Nidya mendesis dan mendesah panjang, perutnya mengejang dan cairan vaginanya meluap bersama kedut-kedut orgasme



Begitu indah tubuh Nidya terkulai dibawah sorotan lampu kamar, butiran keringat meleleh membasahi tubuh mulusnya. Suara desah tertahan sesekali terdengar di antara suara seruputan seorang laki-laki yang usianya berbeda jauh dengannya.



“Mang Dod ?? “



Nidya tak mengerti ketika mang Dodi membalikkan tubuh mulusnya yang terkulai lemas dan mengikat kedua tangannya dengan menggunakan celana piyamanya. Setelah itu mulut Nidya disumpal dengan menggunakan celana dalam dekil milik mang Dodi.



“Emmm!!” Nidya berontak saat mang Dodi menyelipkan penis pada belahan pantatnya, kedua tangan mang Dodi menekan pundak Nidya ia menunduk dan berbisik di telinga gadis itu.



“jangan berisik non, nanti kita ketahuan”



Bisikan mang Dodi ternyata sangat efektif.



“hmmmm hmmmmmm”



Nidya berusaha menggelengkan kepala menolak keinginan mang Dodi. Nafas Nidya seperti orang yang sedang sekarat, matanya yang sipit membeliak, liang anusnya merekah diiringi rasa pedih dan perih yang tak tertahankan saat ujung kepala penis mang Dodi membongkar kerutan anusnya.



“Uhhh Nidya…peret banget bool mu Non…” Mang Dodi menceracau



Otot anus Nidya mengigit seputar ujung penisnya yang terbenam semakin dalam. Dengan sekali sentakan kuat mang Dodi membenamkan kepala penisnya hingga otot nidya melingkari leher penis mang Dodi. Kesenangan dan kenikmatan bagi mang Dodi harus dibayar mahal dengan kesakitan luar biasa bagi nidya.



“Emmmmmm !!! mmmmmhhhh”



Tubuh molek Nidya mengejang kesakitan saat batang penis mang Dodi memaksa masuk inchi demi inchi. Pandangan Nidya mendadak gelap seakan hendak jatuh pingsan namun rasa sakit tetap membuat kesadarannya terjaga dalam derita.



“Ehem, mang Dod sayaaaangg sama Nidya.. , sudah jangan nangisss… Sudah masuk semua…koq…”



Mang Dodi tersenyum merasakan empuknya buah pantat Nidya bergesekan dengan bagian bawah perutnya. Batangnya yang panjang dan besar tertanam dalam anus Nidya. Mang Dodi menarik celana dalam dekilnya, melepaskan mulut Nidya yang tersumpal.



“urhh.. s-sakit mang.. s sakit sekali .. aduhhh…” Nidya mengerang saat batang mang Dodi mulai bergerak seperti sebuah piston



Bisik rayuan-rayuan mang Dodi ternyata tidak sanggup untuk membayar rasa sakit yang dirasakan oleh Nidya yang merasa “dipermalukan” dan “direndahkan” serendah-rendahnya oleh mang Dodi. Berbeda dengan apa yang sedang dirasakan oleh Nidya, Mang Dodi merasa kesuperioran atas diri Nidya. Ego mang Dodi sebagai bawahan/ sopirnya menimbulkan rasa bangga memangsa Nidya sebagai nona majikan dan berdarah Chinese. Dengan teratur batang penis mang Dodi terus bergerak memompa Nidya hinga puas. “Plooo—ppp” Mang Dodi mencabut penisnya, ia membebaskan mulut Nidya dari sumpalan celana dalam dekil milik seorang sopir kemudian menarik pinggul Nidya agar gadis itu menungging dengan sempurna untuk permainan selanjutnya. Ujung penis mang Dodi mencari – cari belahan vagina Nidya. Setelah dirasa pas, perlahan mang Dodi menjejalkan kepala penisnya.



“Mmmmhhhh..” Nidya merinding kegelian, rasa sakit pada anus dibayar oleh sedikit rasa nikmat saat ujung penis mang Dodi menembus dan mengocok-ngocok liang vaginanya.



Mang Dodi terlihat lihat mencecar liang vagina Nidya, serong kiri, serong kanan, menusuk dalam, dan mengocek. Dengan bimbingan dari mang Dodi, Nidya mulai belajar, saat mang Dodi menusukkan batang penisnya, ia mendesakkan pinggulnya menyambut tusukan penis mang Dodi. Untuk beberapa kali tusukan keras Nidya masih dapat bertahan, namun untuk tusukan-tusukan berikutnya tubuh Nidya mulai menggelinjang. Rasa nikmat berkedutan membuat kepalanya terasa ringan namun selain itu Nidya merasa malu mendengar suara yang berasal dari vaginanya. Risih saat payudaranya yang tergantung terayun – ayun dan risih saat buah pantatnya beradu dengan bagian bawah perut mang Dodi.



“mmmmhh emmmmh emmmhh…” Nidya menenggelamkan wajahnya pada bantal.



Mang Dodi tersenyum, sebagai seorang laki-laki sudah tentu mang Dodi takjub pada kecantikan Nidya. Terbayang olehnya wajah cantik Nidya kecil yang lugu dan polos, selama tujuh belas tahun mang Dodi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perkembangan Nidya kecil menjadi seorang gadis cantik bertubuh aduhai.



“Mang Dod.. Mang Doddddd….” Nidya merengek perlahan.



“Ya Non ??” Mang Dodi menyahut.



“Pelan-pelan mang…” Nidya meminta mang Dodi memperlembut tusukannya.



“Segini Non ??” Mang Dodi bertanya.



“He-emm.., hssssshhhh.. ohhhh mang Dod… enakk”



Tanpa sadar Nidya merintih keenakan saat penis mang Dodi menusuk vaginanya. Begitu dalam dan lembut membuat Nidya meringis dalam getar-getar kenikmatan yang berkedutan saat cairan orgasmenya kembali tumpah.



“Unnnhhhhhh mang Dooood.. utsssss !!” Nidya merengek manja saat mang Dodi membalikkan tubuhnya kemudian menarik kedua kakinya yang mulus indah ke udara.



Satu tusukan kuat membuat tubuh Nidya mengerjat, selanjutnya tubuh Nidya terguncang mengikuti helaan batang penis mang Dodi. Sedikit demi sedikit mang Dodi meningkatkan ritme tusukan penisnya, helaan – helaan nafas berat terdengar memenuhi kamar tidur Nidya. Ringisan Nidya mengeksploitasi sensualitas wajahnya yang jelita. Nidya menatap mang Dodi yang sibuk menjejal-jejalkan batang penisnya, mata laki-laki itu menatap tajam pada buah dadanya yang terguncang dengan hebat. Reflek Nidya menyilangkan kedua tangannya di dada untuk melindungi sepasang payudaranya yang terguncang. Mang Dodi terlihat kecewa, ia meletakkan kaki Nidya di bahu dan kedua tangannya mencekal dan menarik kedua tangan Nidya agar buah dadanya terekspos dengan sejelas-jelasnya dalam guncangan hebat yang membuat jantung mang Dodi berdegub dengan lebih kuat. Berkali-kali cairan orgasme Nidya tumpah meluap sebelum akhirnya sperma mang Dodi muncrat mengisi vagina Nidya. Tubuh Mang Dodi roboh menimpa tubuh molek Nidya yang berpeluh. Batangnya mengerut terjepit dalam kepitan vagina Nidya yang sempit.



“mmmmhhh mang Dod…” Nidya memeluk tubuh mang Dodi, keduanya berciuman lama dan mesra.



Setelah cukup tenaga Mang Dodi pamit keluar dari kamarnya dan Nidya pun tertidur kelelahan.



############################



Keesokan harinya, jam 7 pagi



Hari itu Nidya jadi pendiam, sementara ayah dan ibunya sibuk mengobrol bisnis di meja makan tanpa memperhatikan anak semata wayangnya. Nidya menghela nafas panjang untuk meringankan beban berat yang harus ditanggungnya akibat rasa nikmat sesaat.



“Nidya berangkat dulu ma.., pa..” Nidya pamit kepada kedua orang tuanya.



“Ya…” Ayah Nidya menjawab singkat.



“He-eh..” Ibu Nidya menjawab tak kalah singkat.



Mereka kembali sibuk dengan urusan masing – masing, kadang-kadang Nidya merasa hidup sendiri di rumah mewah yang semakin terasa sepi semenjak kematian Mbok Ijah setahun yang lalu. Hari itu Nidya tampak risih menatap mata Mang Dodi yang mesum sumringah. Wajah Nidya yang cantik merah padam mengingat apa yang telah dilakukan oleh Mang Dodi, sopir kepercayaan-nya.



“Non kenapa koq diem aja sih?” Mang Dodi memecah keheningan.



“Emm .. ngak apa-apa mang…”



Wajah Nidya merona saat mang Dodi menyapa. Nidya melihat ke jendela, sepertinya ini bukan jalan menuju sekolah, entah kemana mang Dodi akan membawanya. Nidya tidak peduli karena sebenarnya Nidya memang sedang tidak mood untuk masuk sekolah hari ini. Hilangnya perawan membuat ia tersiksa dalam rasa gelisah yang tak berkesudahan.



“Kemarin enak banget ya non…” Mang Dodi terkekeh mesum.



“Kita mau kemana mang ??” Nidya berusaha mengalihkan topik pembicaraan.



“Mang Dodi punya kejutan buat Non Nidya” jawab Mang Dodi



“Kejutan?” Nidya heran



“Iya Non suka ngentot kan? Kemaren Non menikmati kan?” tanya Mang Dodi tanpa malu-malu lagi.



“Eeemmm....jangan nanya gitu ah Pak!” wajah Nidya memerah dan tidak tahu harus menjawab apa, memang tak bisa disangkal kalau dirinya menikmati persetubuhan itu.



“Hehehe...malu-malu ah si Non, Mamang yakin Non Nidya pasti suka kejutan ini….tubuh Non bakal menggeliat, menggeliat dan terus menggeliat he he he”



Mang Dodi senyum sambil menancap gas. Mobil melaju kencang menuju Gunung Tangkuban Perahu. Hari Senin tidak terlalu banyak orang, hanya ada beberapa mobil yang parkir dan dua buah bus pariwisata.



“Ayo non , udah sampe, yuk turun…ikutin mamang ya.. agak jauh supaya nggak pada curiga”



Mang Dodi membukakan pintu seperti biasa. Dengan hati ragu Nidya turun dari dalam mobil. Entah mengapa ia menurut saja mengikuti mang Dodi yang terus naik ke atas. Semakin ke atas semakin sepi, hanya satu atau dua orang saja yang kadang berpapasan dengan Mang Dodi dan Nidya. Menyusuri jalan berbatu menuju sebuah gubuk yang tampak ramai dengan beberapa laki-laki bertubuh kekar namun berpakaian kumal dan dekil.



“Mang Dodi?? Mereka siapa?”



Nidya bersembunyi di balik punggung sopirnya, sorot-sorot mata laki-laki bertubuh kekar itu tampak ganas dan liar seperti hendak menelanjangi tubuh Nidya. Wajah-wajah sangar dan beringas tersenyum mesum pada Nidya. Semuanya berjumlah lima orang.



“Ini temen-temen Mamang Non, Non kan katanya pengen kejutan ya, makannya Mamang ajak ke sini” kata Mang Dodi enteng.



“Ahhhhhhhh…!! Tapi Mang...kok gini....aaahhh!!”



Tiba-tiba seorang dari mereka yang bertubuh gempal menarik lengan Nidya. Bibir Si gempal yang tebal segera menyumpal bibir mungil Nidya. Keahlian si gempal dalam mencumbu membuat Nidya merinding panas dingin dan pemberontakannya mengendur. Keempat temannya tidak tinggal diam, mereka mengerubuti Nidya seperti semut mengerubuti sebongkah gula-gula. Mereka mempreteli satu persatu pakaian seragam Nidya, beberapa kancing seragamnya putus karena agak kasar, sehingga dalam waktu singkat Nidya telah telanjang di pelukan si pria gempal diiringi decak kagum orang-orang yang sama sekali tidak dikenal oleh gadis itu. Lima pasang tangan kasar itu segera menjelajahi kehalusan dan kemulusan tubuh Nidya. Meremas buah pantat, mencolek belahan bibir vagina dan mengelusi permukaan paha Nidya yang halus. Mata Nidya terbelak melihat batang-batang besar berurat mengacung perkasa. Nidya merasa panas oleh gairah yang membakar darah mudanya.



“Auhhhh…..” Nidya menjerit kecil



Si gempal melemparkan tubuh Nidya ke atas sebuah kain selimut belel yang dibentangkan di depan sebuah rumah gubuk tua. Serempak lima orang laki-laki berwajah beringas menerkam tubuh Nidya yang terpekik. Tubuh telanjang Nidya terlentang pasrah, lima pasang tangan kembali menjelajah menggerayangi sekujur tubuh Nidya yang putih mulus. Kelima Orang Laki-laki dengan wajah sangar terkekeh saat saling berbincang mesum. Dari situ Nidya mengetahui nama-nama mereka, yang bertubuh gempal bernama Bang Somad, yang berkumis bernama Bang Malik, yang berwajah codet bernama Bang Toto, yang brewokan bernama Kardi, yang bibirnya paling tebal bernama Jarot. Kesemuanya adalah penduduk setempat, ada yang menjadi penjaga keamanan, penjual mainan, dan petugas kebersihan.



“Minggir. Gua mau nyicip memeknya…” Bang Somad mengejar vagina Nidya.



“Siap banggg. Tapi kalau abang udah selesai jangan lupa bagi-bagi ya” sahut Bang Malik, ia dan kawan-kawannya mundur, memberi ruang bagi bang Somad.



“Iya lah pasti...gua kasih kalau gua udah puas ngentot sama si amoy cantik ini”



Jawaban Bang Somad disambut senang oleh Malik dkk.



“Gila ini lobang, bagus amat ck ck ck seumur-umur baru kali ini gua ngeliat isi memek Cina…”



Mata Somad melotot melihat isi vagina Nidya yang berwarna merah muda, aromanya yang harum karena terawat membuat nafas Somad memburu. Dengan rakus mulut Somad melumat-lumat vagina Nidya. Rintihan Nidya membuatnya semakin liar dan beringas menikmati vagina gadis itu. Lidah Somad menusuk-nusuk dan mencokel – cokel daging mungil milik Nidya.



“Hssshshhh.. Hssssshhhhh ahhh!!” Nidya mendesis dan mendesah.



Permainan Bang Somad membuatnya kewalahan, geli tapi nikmat, risih tapi ingin lebih sementara keempat orang laki-laki berwajah beringas lainnya beserta Mang Dodi menonton dengan penuh nafsu, selentingan-selentingan nakal terdengar di antara mereka.



“Kasih bang !! kasih..!!” Jarot berteriak kemudian terkekeh.



“Hihhhhh…..”



Dengan sekali sentak, Bang Somad menusuk vagina Nidya.



“Aduhhh…!!” Nidya memekik keras, setengah penis terbenam dalam vaginanya.



“Ha ha ha ha ha…” Suara tawa menggelegar “ahh aaa aaaa ahhhhhhh…uuhhuyyy...amoy emang emoy!!”



Tubuh Nidya terguncang hebat. Mata sipitnya menatap mang Dodi yang asik mengabadikan persetubuhan liar antara Nidya dan Mang Somad dengan menggunakan kamera saku. Nidya mengerang menahan pompaan kasar dari Bang Somad.



“unnhh hsssshhh ahhhhhhh…..” nafas Nidya tertahan, denyut-denyut nikmat membuatnya terkulai diiringi sorak sorai keempat orang laki-laki beringas yang menyemangati Bang Somad yang menyerang dengan lebih gencar.



Suara erang, rintih dan pekik Nidya membuat bang Somad bergairah luar biasa. Suara becek terdengar keras saat Bang Somad memompakan batang penisnya ke dalam vagina Nidya. Bosan dengan posisi missionary dan kemenangan gemilang atas orgasme Nidya, Bang Somad menyuruh Nidya untuk menungging.



“Wuihh !! Bulet padet !! Mantap ini!!” Bang Somad memuji sambil menampar buah pantat Nidya.



Cairan orgasme Nidya meleleh pada paha bagian dalam, tangan Bang Somad mengusap keringat di punggung Nidya kemudian meremas-remas buah pantatnya sebelum akhirnya ia menggesekkan ujung penis pada belahan pantat Nidya yang hangat.



“Akkkhhh !! Aduh-duh.. Awwwww.. sakit bang..” Nidya mengaduh dan memekik kesakitan.



Anus yang masih lecet karena kemarin diperawani sopirnya kembali dikuakkan oleh sebatang penis yang lebih besar dari milik mang Dodi. Suara erang Nidya membuat jantung para lelaki di tempat itu berdegub dengan lebih kencang. Mang Dodi menjepretkan kamera sakunya pada wajah Nidya , mengabadikan ekspresi wajah cantik yang sedang kesakitan kemudian bak fotografer mengambil pose Nidya yang sedang menungging ditusuk oleh penis Bang Somad.



“sebentar bang…, saya pindahin dulu handycam nya..” Bang Dodi memindahkan handycam second yang dibeli dari sebuah counter di pusat perbelanjaan elektronik terbesar di kota Bandung, sebuah tripod menyangga handycam second yang masih berfungsi dengan baik.



“Aduh , aduh .. ahh ahh akhh awwww…” Nidya mengaduh dan memekik kesakitan, tubuhnya tersungkur maju mundur mengikuti gerakan batang penis Bang Somad yang bergerak kasar menyodomi anusnya.



Wajah Nidya dalam derita diabadikan dengan sejelas-jelasnya oleh sebuah handycam dan jepretan – jepretan kamera saku di tangan mang Dodi.



“Aduh sakit-s-sakit , T-tolong mang Dod.. Tolong…” Nidya memohon pertolongan mang Dodi yang terkekeh padanya.



“Aduhhh !! Ampun Bang ampunnnhh akhh arrrrrhhh…”



Kasar sekali Bang Somad menumbukkan penisnya. Suara benturan buah pantat Nidya dengan bagian bawah perut Bang Somad terdengar keras seperti suara tamparan. Jerit dan tangisan Nidya terdengar di antara suara tumbukan-tumbukan penis Bang Somad yang mencecar dengan gencar. Mata Nidya yang sipit terbeliak-beliak akibat rasa sakit yang tak tertahan. Suara merdu Nidya terdengar sedikit serak akibat terlalu sering dan terlalu keras menjerit.



“UNGGHH !! Anjing !!” Bang Somad mengumpat, spermanya muncrat dalam anus Nidya, batang penisnya berkedut-kedut , layu dan mengkerut, tubuhnya yang gempal ambruk menindih tubuh mungil Nidya.



Nidya merintih kesakitan saat gigitan gemas Bang Somad menancap di bahunya setelah itu barulah Bang Somad mengangkat tubuhnya dari tubuh Nidya.



“Aduhhh.. jangannnn….” suara Nidya kembali terdengar, empat orang laki-laki dengan wajah beringas menyerbu menggeluti tubuh mulusnya yang berpeluh, tidak ada seincipun tubuh Nidya yang lolos dari gerayangan-gerayangan tangan keempat lelaki itu yang menggerayang penuh nafsu binatang. Buah dada Nidya yang bulat padat menjadi sasaran empuk bagi mulut orang-orang gunung yang begitu bernafsu padanya.



“Sudah bang , jangan.. nggak kuat…” Nidya menolak saat dipaksa menaiki batang penis Bang Jarot.



“Tinggal naek !! Susah amat sih !!” Jarot yang terlentang membentak Nidya.



“Ha ha ha ha” suara tawa menggelegar mendengar gerutuan Jarot.



Dibimbing oleh tiga orang laki-laki Nidya naik ke atas penis Jarot, tangan jarot mengusap-ngusap paha, pinggul dan meremas-remas payudara Nidya. Saat merasa ujung penisnya mulai tenggelam dalam vagina, dengan gerakan mendadak Jarot mengangkat penisnya ke atas, tanpa ampun penisnya melesat menusuk vagina Nidya.



“Aaaaaa.. ahhhhh….”



Tubuh mulus Nidya pun menggelinjang dalam pelukan Jarot. Saat itu Malik yang tidak tahan mengarahkan penisnya ke pantat Nidya



“Aduh..!!jangan bang..!! tolong jangannn…” Nidya memohon saat Bang Malik mulai melakukan penetrasi ke duburnya



“AWWWWWWWW….” jerit Nidya terdengar keras saat anusnya ditembus penis.



Baru untuk yang pertama kali Nidya merasakan dua batang penis menusuk anus dan vaginanya sekaligus. Sekujur tubuhnya gemetar hebat, harga dirinya direndahkan serendah-rendahnya di hadapan para laki-laki di tempat itu. Mang Dodi melotot dengan wajah mesum ia kembali sibuk menjepretkan kamera di tangannya untuk mengabadikan obsesi dari angannya yang terliar, Nidya yang cantik mengerang disandwich oleh dua orang laki-laki berwajah beringas.



“Aduhh !! AOWWWW…!!” Nidya menjerit dan memekik keras saat dua batang penis bergerak seolah sedang saling berlomba mencari kenikmatan dalam anus dan vaginanya.



Nidya melenguh keras dalam rasa malu, ia dipermalukan semalu-malunya oleh Malik dan Jarot yang kasar dan beringas menghujamkan batang mereka ke dalam kedua lubangnya. Jerit dan pekik dalam rasa malu dan rasa direndahkan akhirnya berakhir dengan kepasrahan saat Nidya merasa kedutan-kedutan nikmat yang menyebar ke seluruh tubuh. Dalam kepasrahan Nidya merengek.



“He he he… nih susu buat yang mau…”



Malik menarik bahu Nidya agar posisinya duduk menjengking ke belakang, otomatis buah dadanya membusung menggairahkan. Dua mulut mengejar mengecupi buntalan buah dada kemudian menghisap kuat puncak payudaranya. Bergantian Toto dan Kardi melumat dan mengulum bibir Nidya, tangan mereka tak henti meremas buah dada yang membusung itu. Erang dan ringisan menabur sensualitas di wajah cantik Nidya yang sedang dikeroyok oleh empat orang laki-laki berwajah buruk yang menuai kemenangan gemilang atas orgasme yang dialami Nidya hingga penis Malik dan Jarot memuntahkan sperma panas dalam anus dan vaginanya.



“Sini cantik biar abang gendong…” Toto dan Kardi terkekeh menggoda Nidya.



Penis kardi mengait vagina Nidya dalam posisi menggendong berdiri berhadapan, reflek kaki Nidya mengapit pinggang Kardi. Tidak berapa lama penis Bang Toto menusuk anusnya. Anus dan vagina Nidya kembali menjadi bulan-bulanan dua batang penis yang bergerak dengan teratur menusuki liang vagina dan anusnya. Nidya mengalungkan kedua tangannya pada leher Kardi, ia menyambut lumatan bibir laki-laki itu sesekali Nidya menoleh ke belakang untuk berciuman dengan Bang Toto. Entah sudah berapa kali vaginanya berkedut dalam nikmat orgasme sebelum akhirnya diiringi suara lenguhan panjang wajah cantik Nidya menengadah ke atas langit saat ia tersiksa dalam buaian puncak klimaks bersamaan dengan semburan sperma panas Bang Toto dan Kardi. Mang Dodi tersenyum lebar menyaksikan tubuh Nidya yang putih mulus merosot turun. Nidya kecil yang kini tumbuh menjadi seorang remaja cantik terkulai dengan tubuh basah berpeluh dibawah kaki lima orang laki-laki berwajah sangar yang terkekeh puas menikmati kemudaan dan kemulusan tubuh moleknya. Tiga batang penis yang masih berdiri perlahan turun. Bang Somad , Bang Jarot, dan Bang Malik menembakkan spermanya pada wajah, payudara dan perut Nidya. Sebentar saja Nidya sudah belepotan cairan putih susu berbau menusuk itu. Mang Dodi mendekatkan kameranya ke wajah Nidya.



“Gimana Non? Enak ga?” tanya Mang Dodi



Nidya hanya mengangguk dengan senyum lemas. Ia menelan sperma dalam mulutnya agar tidak terlalu tersiksa dengan aromanya yang tajam. Terus terang, walaupun merasa dipermalukan namun dalam hati kecilnya ia mulai menyukai dan sangat menikmati suasana tadi.



“Lain kali mamang ajak entotan lagi Non mau kan?” tanya sopir itu lagi



“Mau...mau Mang” jawabnya



Begitulah awal dari kehidupan baru Nidya sebagai budak seks sopirnya sendiri. Hari demi hari selalu ada saja pengalaman baru bersama Mang Dodi. Kesepian dan kurangnya perhatian orang tua membuatnya berpaling pada kesenangan terlarang.

Tubuh Molek Model Jepang

 
 Info Cerita Terlengkap||Bisa Ngentot Terbaru| Cerita Dewasa | Cerita Sex Terbaru|  Cerita Mesum |Cerita Ngentot |Cerita Tante Tante |Seks Bergambar - See more at: http://bisangentot.blogspot.co.id/2016/05/dada-para-gadis-jepang-yang-bikin-dek.html#sthash.n4vTmmCC.dpuf
 
Kumpulan Artikel Dewasa. || Tubuh Molek Model Jepang, Toketnya Gan!! Foto Hot , Foto Bugil , Bispak Sange , Memek ABG , Toket Tante Girang, Cewek Cantik , Memek sempit,Foto Bugil Wanita, abg bugil, toket gede.





Dada Para Gadis Jepang Yang Bikin Dek-dekan

 Info Cerita Terlengkap||Bisa Ngentot Terbaru| Cerita Dewasa | Cerita Sex Terbaru|  Cerita Mesum |Cerita Ngentot |Cerita Tante Tante |Seks Bergambar
| Cerita Mesum | Cerita Ngentot |  Cerita Tante-tante | Seks Bergambar - See more at: http://bisangentot.blogspot.co.id/#sthash.NW8XQBth.dpuf

Kumpulan Artikel Dewasa. || Dada Para Gadis Jepang Yang Bikin Dek-dekan Foto Hot , Foto Bugil , Bispak Sange , Memek ABG , Toket Tante Girang, Cewek Cantik , Memek sempit,Foto Bugil Wanita, abg bugil, toket gede.











Cerita Sex: Istri Pandai Membuat Kepuasan

Cerita Sex: Istri Pandai Membuat Kepuasan

Info Cerita Terlengkap | Bisa Ngentot  Info Terbaru  |  Cerita Dewasa  | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot |  Cerita Tante-tante | Seks Bergambar - See more at: http://bisangentot.blogspot.co.id/#sthash.NXLwsEiX.dpuf

Rintihan Istriku Hebat Sekali. Suatu ketika saat aku mengahntarkan istriku untuk menghadiri seminar di sebuh hotel berbintang dan aku juga ikut menginap di sebuah hotel di kota tersebut, karena kita sudah suami istri untuk menghemat biaya jadi kita memasan single beds , profesi istriku sebagai asdos di universitasnya, perkiraan kita menginap 2 hari di kota ini.
Cerita Sex: Istri Pandai Membuat Kepuasan



IstrIku yang bahenol saat itu mengenakan blaser kuning berleher rendah sehingga kedua payudara montoknya tampak dari balik blaser kuningnya dan tampak remang remang puting susu istriku di balik blasernya karena saat itu istriku yang sudah berumur 40 tahun memakai BH tipis dan pantat bahenolnya begitu menggoda saat berjalan dengan goyangannya karena istriku memakai rok span elastis hitam walaupun perutnya sudah tak kecil lagi dan memakai sepatu bertumit tinggi.

Sering aku berpikiran buruk agar istriku menyeleweng dan aku dapat menemuinya dengan mengintip bagaimana saat istriku “digarap” lelaki tua. Istriku memang pernah cerita kalau salah satu mahasiswanya di kelas yang berada di luar kota pernah “mempermainkan” daerah sensitifnya di selangkangannya, sehingga istriku tak berani berdiri lama-lama di kelas dan duduk di meja pengajar yang ditutup oleh taplak meja saja.

“Mas nanti nggak usah dijemput karena sudah disediakan angkutan oleh panitia. Mas, capai tidur saja, kalau mau pijit saja, biar nanti malam tambah ‘greng’,tapi jangan dipijit cewek lho” kata istriku

“Yah, cari tukang pijit kakek kakek, sekalian mijit mijit anumu ?.” kataku berseloroh “Biar, selain memijit juga menyuntik iniku,” kata istriku tertawa sambil menunjuk selangkangannya

“Bener ?”kataku “Boleh kan, mas? tanya istriku “Kau memang pingin to, dik?” tanyaku “Ya, aku pingin mas,” kata istriku vulgar menatapku dengan tajam “Boleh, kan?” kata istriku merayu “Kalau kau suka dan senang ?” jawabku

Sesampai di penginapan, aku minta resepsionis untuk mencarikan tukang pijit. Sampai aku makan siang, barulah muncul tukang pijit itu, orangnya tua memakai ikat kepala dan membawa tas kulit kumal, berbaju hitam, dan celana komprang selutut, dia menyuruhku memakai sarung.

“Siapa namanya, pak,” aku bertanya saat tukang pijit mulai memijitku. “Orang memanggil saya, Mbah Bejo, mas,” katanya Menurut ceritanya, dia ahli pijit urat dan bisa membuat lelaki tambah greng dan dia mampu memperbesar kemaluan laki laki dan segudang cerita lainnya

Bahkan ada cerita Mbah Bejo yang membuatku bergidik, yaitu kalau dia bisa membangkitkan gairah seorang wanita tanpa menyentuh. Dia bahkan pernah membuat salah satu istri pejabat jauh- jauh datang dan menginap di rumahnya di desa untuk minta dipuaskan.

Mbah Bejo terus memijit dan akhirnya aku disuruh bersandar di tempat tidur dan menyuruh menyingkapkan sarungku dan kurasakan kesakitan pada saat aku dipijit batang kemaluanku dan beberapa saat kemudian kulihat batang kemaluanku membesar dan kudengar pintu dibuka, Mbah Bejo cepat-cepat menutup sarungku, kulihat istriku masuk.

“Simpananmu, mas?”tanyanya berbisik saat melihat istriku. “Istri saya, mbah,”kataku “Ah, jangan bohong, perempuan ini bisa “dipakai”,”katanya.

Belum sempat aku menjawab “Aku juga bisa membuat mas tak berkutik,”katanya dan aku meringis kesakitan saat kurasakan perut kebawah seperti mengejang dan aku tak dapat bergerak.

“Sudah pijatnya, mas,”kata istriku “Belum, jeng,” Mbah Bejo yang menjawab. “Kenalkan ini istri saya, Mbah Bejo,”kataku. “Bener to, jeng?katanya.

“Lho, iya mbah kan hotel ini nggak boleh bawa-bawa, memang apa mbah melihat saya oang yang nggak bener” kata istriku sambil menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Mbah Bejo.

“Saya istrinya,” istriku memperkenalkan diri mendekati Mbah Bejo yang duduk di pinggir ranjangku. “Saya, Mbah Bejo,”katanya dan tangannya bersalaman dengan tangan istriku.

“Heeh ?”kudengar istriku mendesis lirih.

“Saya kira jeng wanita simpanan kang mas ini,”kata Mbah Bejo. “Wah, kebetulan saya bawa surat nikah, mbah,”kata istriku mengambil surat nikah dari tasnya dan menyodorkan setengah membungkuk dan kulihat mata Mbah Bejo langsung tertuju di blaser kuning istriku yang berleher rendah dan Mbah Bejo menatap tajam gundukan daging payudara istriku bagian atas.

“Jeng, pijet ya,” kata Mbah Bejo “Saya, nggak biasa dipijat ?.”kata istriku terputus “Nggak Mbah Bejo nggak perlu megang?.”katanya sambil berdiri dan menuju ranjang satunya, aku tak dapat berbuat apa apa saat istriku merebahkan dirinya di kasur empuk itu tanpa melepas sepatu tumit tingginya.

Mbah Bejo duduk dipinggir ranjang pantatnya bersebelahan dengan pantat bahenol istriku yang rebahan. Kulihat Mbah Bejo membuka telapak tangannya dan hanya segenggam jaraknya dari tubuh istriku bergerak diatas tangan kanan istriku, tangan kirinya dan kedua betis istriku.

“Gimana jeng, enak”tanya Mbah Bejo “Waah, kok bisa ya nggak nyentuh rasanya seperti dipijit “kata istriku “Enak kan jeng,” Mbah Bejo bertanya lagi “Ya ?”kata istriku “Ya apanya?”tanya Mbah Bejo

“Enak rasanya..”kata istriku “Jeng, Siapa namanya?”tanya Mbah Bejo

“Yati, mbah?”jawab istriku “Jeng Yati, tadi enak, kan?tanya Mbah Bejo lagi “Iya, mbah enak,” kata istriku “Kalau ini nggak enak Jeng Yati, tapi nikmat..”kata Mbah Bejo

Kulihat Mbah Bejo mengembangkan telapak tangannya diatas kedua payudara istriku dan “Mbaaaah ?”istriku mendesah saat Mbah Bejo menutup telapak tangannya dan membuka lagi seolah Mbah Bejo tengah meremas remas payudara montok istriku.

“Mbaaah jangaaan, mbaaah,” istriku mendesis dan kedua tangan istriku menekan dibawah ketiaknya sehingga kedua payudara montoknya semakin menggelembung dari balik blaser nya. “ooh mbbaaaaah Bejoooo ?.”istriku merintih ketika tangan Mbah Bejo semakin cepat membuka menutup meremas dari jauh kedua payudara montok istriku yang masih terbalut blaser kuningnya.

“Hhhheeeggghhhhhh ??”istriku mendesah saat salah satu tangan Mbah Bejo seolah memelintir puting susu istriku dan tampak jelas kedua puting susu istriku tersembul dari balik blaser nya.

“maaas mbaaaah Bejooooo tolooong maaass heeqqhhhh ?..”rintih istriku dan tersentak saat tangan Mbah Bejo sepertinya memelintir sambil menarik kedua puting susu istriku.

Mbah Bejo semakin lama semakin menguasai istriku dan rupanya istriku hanya bisa mendesis dan mendesah oleh perlakuan Mbah Bejo.

“Ayo buka kancingnya,”perintah Mbah Bejo Istriku yang mengerang “Ngaaaaak mauuuu mbaaaah ?.engaaaaak ??.” istriku seperti ada yang menarik tubuhnya dan terduduk di ranjang walaupun mulutnya menolak tapi kedua tangannya membuka satu kancing blaser kuningnya dan aku tertegun saat istriku melepas kaitan BHnya di belakang dan menarik BHnya sendiri hingga tali talinya terputus. “Ayo mbah haus,” kata Mbah Bejo.

istriku membuka tiga kancing blaser nya dan dengan sendirinya kedua payudara montok istriku dimana kedua puting susunya yang menegang tersembul keluar dari blaser kuningnya.

“Aku haus Jeng Yati, aku dari tadi capek mijit kangmasmu, tapi gak dikasih minum, aku pingin minum,”kata Mbah Bejo sambil seolah mengusap kedua payudara istriku yang langsung mengerang “mbaaah ??.. ngaaaaak mauuuuuuu ?.”, tapi istriku memegang paayudara kanannya bagian bawah dan menyodorkan ke mulut Mbah Bejo dan Mbah Bejo langsung mencaplok payudara kanan istriku yang disodorkan ke mulutnya.

“Mbaaaaaah akuuuuu kooook oooohhhh rasanyaaaa air susukuuuu mau keluaaaar ?.mbaaaaah ??.”dan bunyi “srep srep” kudengar mulut Mbah Bejo menyedot nyedot payudara kanan istriku yang mengeluarkan air susu.

Mbah Bejo menarik tubuh istriku hingga turun dari ranjang dan istriku kini berdiri menyorongkan badannya di depan Mbah Bejo yang duduk di ranjang karena tangan kiri Mbah Bejo memeluk punggung istriku sedangkan tangan kanan Mbah Bejo meremas remas payudara kiri istriku.

“Maaaas akuuu koook jadiiii beginiiiii??..”desis istriku “oooooh enaaak mbaaaaaah??.”rintih istriku dan kedua tangan istriku memeluk kepala Mbah Bejo yang mengenakan ikat kepala.

Rupanya sedotan Mbah Bejo pada payudara kanan istriku begitu kuat dan cepat hingga beberapa menit saja air susu payudara kanan istriku pun habis dan Mbah Bejo langsung melahap payudara kiri istriku dan kembali suara “srep srep” terdengar lagi saat Mbah Bejo dengan ganasnya menyedot air susu payudara kiri istriku yang terus mengerang tak karuan.

Begitu ganasnya Mbah Bejo menyedot air susu payudara kiri istriku, istriku pun menekan kepala Mbah Bejo ke dadanya hingga ikat kepala Mbah Bejo terlepas dan kulihat kepala botak berambut jarang itupun tampak, gilanya istriku memeluk kepala Mbah Bejo.

Tampak kedua mata istriku terpejam mendapat perlakuan ganas Mbah Bejo pada payudara kiri istriku dan Mbah Bejo menghentikan sedotannya saat air susu istriku habis.

“Nikmat kan Jeng Yati,”tanya Mbah Bejo Istriku hanya diam dan menoleh padaku kemudian mendesis kembali saat telapak tangan kanan Mbah Bejo di depan selangkangan istriku. Ttangan kanan Mbah Bejo seolah menggosok selangkangan istriku sehingga istriku berjinjit karenanya.

Rupanya Mbah Bejo mempermainkan istriku dan Mbah Bejo membiarkan istriku terus berjinjit jinjit sementara selangkangan istriku terangkat angkat ke atas sementara tangan kirinya meraih tas kulit kumalnya dan kudengar dari selangkangan istriku berbunyi “cek cek cek” menandakan lendir vagina istriku sudah keluar.

“Mbaaaah sudaaaaah mbaaaaah ampuuuun jangaaan teruuuskannn hghghgh ?.”desis istriku dan tubuh istriku limbung dan Mbah Bejo memeluk istriku dan mendudukan istriku di samping kiri Mbah Bejo.

Kini istriku yang sudah lunglai tengah duduk dipeluk tangan kiri Mbah Bejo, kepala istriku bersandar dibahu kiri Mbah Bejo, kedua payudara montoknya keluar dari blaser kuningnya, sementara kedua kakinya yang bersepatu hak tinggi terkangkang lebar, sehingga celana dalam sutera putihnya tampak.

Tangan kanan Mbah Bejo meraih bungkusan putih itu dan aku begitu ngeri dan jijik melihat sesuatu entah apa namanya, sesuatu sebesar batang kemaluan orang dewasa seperti ulat hijau mempunyai gurat gurat melingkar seperti sekrup dan mempunyai seperti duri duri di sana sini.

Bungkusan di tangan kanan Mbah Bejo didekatkan pada selangkangan istriku dan pluk benda itu melompat di paha kiri istriku yang langsung menjerit tertahan “Apa mbaaah ?..”erang istriku dan Mbah Bejo menyingkap rok span hitam elastis istriku dan begitu melihat sesuatu yang merambat dipaha kirinya, istriku langsung lunglai dipelukkan Mbah Bejo.

“Lihat Jeng Yati,”katanya sambil memaksa istriku melihat benda yang merayap ke selangkangan nya. “Glek” kudengar istriku menelan ludah “Apaa ini yang merayaap mbaaaah jangaaan ?.mbaaaah ? ampuuun ? ” rintih istriku menghiba.

Mbah Bejo bukannya mengambil benda itu, tapi malah menundukkan kepala istriku agar bisa melihat sedang apa benda yang semakin mendekati selangkangan istriku dan Mbah Bejo meyingkap celana dalam sutera istriku ke kanan sehingga bulu bulu kemaluan istriku yang lebat terlihat.

Benda itu mendengus dan tampak olehku asap seluar dari liang berbibirnya menyembur bulu bulu kemluan istriku yang langsung memejamkan kedua matanya dan mendesis “Mmmmpppppfffzzzzzz ??.”

Tiba ?tiba benda itu mematuk ke bagian atas kemaluan istriku dan “Itiiiilkuuuuuu mbaaaaaah ?..”meluncur kata kata istriku seperti seorang pelacur saat lubang berbibir benda itu melahap kelentit istriku.

“Mbaaah ? ooohh ?.. hgggghhhh ?. mmmmmppppffzzzz?,”istriku merintih rintih dan pantat bahenolnya berguncang tangan kirinya meremas sprei dan tangan kanan istriku memeluk pinggang Mbah Bejo kencang. Keringat istriku mengucur deras nafasnya menderu deru menahan nafsu birahinya

Rupanya benda itu semakin ganas mengulum dan menyedot nyedot kelentit istriku sehingga tubuh istriku benar benar bergetar hebat, tangan kiri istriku meremas sprei ranjangnya hingga “mmmmppppffzzzz akuuuuuuu ngaaaaaak tahaaaaaan mbaaaaaah ?. akuuuuuu keluaaaaaar ??..”erang istriku dan pantat bahenol istriku tersentak sentak dan kedua kakinya mengejang lurus terkangkang mencapai orgasme di sore hari itu.

Mbah Bejo membiarkan istriku sampai nafasnya tenang dan kemudian menegakkan tubuh istriku yang lunglai berdiri dan memeluk istriku dari belakang dimana kedua payudara istriku keluar dari blaser kuningnya dan rok spannya tersingkap sampai diperutnya.

Mbah Bejo menuntun istriku ke ranjangku. Kulihat benda itu membujur sepanjang bibir vagina istriku dan Mbah Bejo memelorotkan celana dalam sutera istriku sampai di lututnya. Aku hanya dapat menelan ludah saat benda itu mulai bergerak seperti gerakan mengempot bibir vagina istriku yang langsung mendesis desis “hhhheggggghhhhh enaaaaak enaaaaak maaaas akuuu dikempoooot ?.ennnaaaaak hhhhhghghghghg ?.”

Pantat bahenol istriku bergoyang ke kiri kenan dan ke atas merasakan kenikmatan empotan benda itu pada bibir vaginanya. Tak lama kemudian desis istriku semakin keras dan “itiiiilkuuuuuuu ?.eehehghghghgghhh eeeempiiiiikuuuu ?. maaaas akuuuu keluaaaar ??”kembali untuk kedua kalinya pantat bahenol istriku tersentak sentak begitu kerasnya saat orgasme keduanya berlangsung.

Mbah Bejo tetap memegang tubuh istriku yang lemas dengan tangan kirinya di perut istriku, sementara tangan kanannya menarik paha kanan istriku hingga berdiri terkangkang. Kulihat benda ulat itu tetap mengulum kelentit istriku dan tiba tiba ekor ulat itu mengacung ke atas dan tangan kanan Mbah Bejo langsung membuka lebar bibir vagina istriku yang basah dan ulat itupun melingkarkan bagian ekornya saat Mbah Bejo membuka lebar-lebar Akupun merinding aaat ekar ulat itu menempel di bibir vagina istriku yang terbuka itu dan “Eeeeegggghhhhhh ?.

`istriku mendesah saat ujung ekor ulat itu merambat menembus liang vagina istriku. “Mbaaaaah jangaaaaaan eeehhhgggggghhhhh ?..”istriku mendesah keras saat ekor ulat itu semakin dalam menusuk liang vagina istriku.

Secara refleks istriku membuka kedua kakinya dan tubuhya menyorongkan tubuhnya ke depan sehingga kedua payudara montok istriku yang menggantung segera ditangkap oleh tangan kanan Mbah Bejo dan meremas remas payudara istriku, sedangkan tangan kirinya yang menopang tubuh istriku ikut ikutan meremas remas payudara istriku.

Tubuh istriku mengelinjang tak karuan menerima tiga sengatan birahi sekaligus, dimana kedua payudaranya secara bergantian di remas remas tangan mbah Bejo, sedangkan kelentitnya dikulum dan disedot sedot mulut ulat itu dan liang vagina istriku dijejali tubuh ulat yang berbulu seperti duri dan bergurat di tubuh ulat itu.

Pantat istriku menungging nungging dan kedua tangan istriku ke belakang memegang kencang pinggul Mbah Bejo yang menggesek gesekkan selangkangannya ke pantat istriku.

“Ngngnghhhhhh ?.. mbaaaaahhh ?..zzzzzzzz eeeeeccchhhhhhh ? enaaaaaaaak ?.. xxzzzz ? heeeh ? mmmmmpppffzzzzz ?..” istriku mendesis desis tak karuan, sekali kali gerakan pinggulnya maju mundur dengan cepatnya.

“Akuuuuuuu nggaaaak heh heh keluuuaaaaaaaaaaaaar ?? ngngngngngng ?..”istriku mengerang saat orgasme ketiganya dan tubuh istriku terhuyung ke depan dan tersungkur di lantai, sedangkan kedua kakinya menekuk kedua lututnya menopang tubuhnya yang bersimba peluh di lantai, sehingga posisi istriku menungging.

Istriku benar-benar tak kuasa karena baru kali ini istriku orgasme lebih dari dua kali dan kulihat Mbah Bejo yang menopang tubuh istriku mengikuti arah tubuh istriku tersungkur di belakang tubuh istriku dan melihat istriku menungging, Mbah Bejo langsung membuka kedua bulatan pantat bahenol istriku sehingga anus istriku terlihat.

Mbah Bejo semakin membuka pantat istriku dan anus istriku pun terbuka dan tanpa jijik Mbah Bejo menjilati anus istriku yang membuat tubuh istriku berkelejot dan tersentak, “Mbaaaah jangaaaaaan anuuuusskuuuuu ?..heeeeghghgh ?..oooh .. oooh ? enaaaaak ?..zzzzzzccccchh ??.” istriku mengerang erang tak karuan tubuhnya seolah menggigil dan pantat istriku seolah disengat oleh listrik ribuan volt goyangannya menggetarkan pantat bahenolnya.

“Uuuuuummmpppppffffzzzz ??”istriku melenguh saat Mbah Bejo menjulurkan lidahnya menembus masuk lubang anus istriku dan kepala Mbah Bejo maju mundur mengeluar masukkan lidahnya yang panjang ke dalam anus istriku.

Erangan istriku semakin kencang dan tubuh nya bergetar hebat menerima rangsangan di lubang anusnya, kelentit dan liang vaginanya bersamaan, sehingga desisan istriku seolah seperti orang yang menangis tersedu sedu merasakan nikmatnya rangsangan Mbah Bejo dan ulat yang menyumpal liang vaginanya..

“Ngngngngccchhhhhhhheeehhhhhhhhh ???”istriku mengigit bibirnya matanya terpejam dan kedua tangannya tergenggam erat dan “Wwwwwuuuuooooooooogggghhhhhh ??..’istriku mengerang dan pantat bahenolnya tersentak sentak saat mencapai orgasmenya yang ke empat dan tubuh istriku tengkurap dan tersungkur di lantai.

Hanya pantat bahenol istriku yang sekali kali bergetar hebat dan tubunya tak kuasa bergerak dan nafas istriku masih memburu, kedua matanya tertutup, mulutnya masih mendesis desis lemah menikmati kenikmatan baru dimana ketiga serangan birahi di daerah paling sensitif istriku di serang dengan gencarnya.

Tiba tiba Mbah Bejo memelorotkan celana pendek komprang hitamnya dan tersembullah batang kemaluannya yang sudah menegang kaku sebesar lampu TL 40 watt dan mempunyai ujung seperti jamur besar itupun di pegang oleh tangan kanannya dan menarik kedua pangkal paha depan istriku sehingga istriku menungging kembali dan kedua tangannya kembali membuka kedua bulatan pantat bahenol istriku sehingga lubang anus istriku menganga kembali dan Mbah Bejo meludahi lubang anus istriku dan lidahnya menjulur lagi menerobos masuk ke lubang anus istriku dan Mbah Bejo terus meludahi dan mengeluar masukkan lidahnya hingga benar-benar penuh ludah Mbah Bejo.

Mbah Bejo memegang batang kemaluannya kembali dan “Zzzzzzaaaaangaaaaaaan mbbbaaaaahhh aaammmpppfffuuunn heeeeegghhhhhh ?”desis istriku lemah saat Mbah Bejo dengan tenaganya yang masih greng itu menekan kepala jamur penisnya ke lubang anus istriku.

istriku mengerang dan mengernyitkan dahinya dan “Mmmmmpppfpff ??.” pantat istriku bergetar lagi saat ulat itu mulai merangsang kelentit dan liang vagina istriku dan “Heeeeeeccccccgggghhhh ??”istriku melenguh saat kepala jamur batang kemaluan Mbah Bejo perlahan tapi pasti melesak ke lubang anus istriku.

“Amppuuuuuucccccchhhhhh ?.ampuuuuuun mbaaaaaah saaaakkkiiiii eeeeeeeh ?.. “pantat istriku bergetar lagi, rupanya setiap Mbah Bejo menekan penisnya ke lubang anus istriku, ulat yang menyumpal di liang vagina istriku bergetar dan mulut ulat itu menyedot kelentit istriku bersaamaan sehingga batang kemaluan Mbah Bejo semakin lama semakin dalam di lubang anus istriku.

Begitu batang kemaluan Mbah Bejo masuk seluruhnya di lubang anus istriku, Mbah Bejo pun mulai menarik kembali dan memasukkan kembali batang kemaluannya di dalam lubang anus istriku dan suara “slep slep slep” semakin lama semakin cepat terdengar dan tubuh istriku kedepan ke belakang mengikuti genjotan pantat Mbah Bejo mengeluar masukkan batang kemaluannya di lubang dubur istriku.

“Mbbbbbaaaaah akuuuuuu ??.” rintih istriku “Akuuuu jugaaaa jeng Yatiiiiii ??.” erang Mbah Bejo semakin cepat menggenjot batang kemaluannya di lubang vagina istriku dan “Mbaaaaaah Bejooooooooooo ??.

”istriku mengerang lirih dan Mbah Bejo menghujam batang kemaluannya dalam dalam ke lubang anus istriku yang mengalami orgasme ke lima dan tangan Mbah Bejo menarik pangkal paha istriku hingga pantat Mbah Bejo menyodok nyodok pantat bahenol istriku karena air manimya muncrat di dalam anus istriku dan bunyi “preeeet preeeet” seperti orang buang angin terdengar dari lubang anus istriku dan rupanya air mani Mbah Bejo keluar dari tekanan lubang anus istriku yang tersumpal oleh batang kemaluan Mbah Bejo yang cukup besar itu. Mereka kemudian menggelepar dan tersungkur bersamaan tubuh tua renta itu menindih tubuh sintal istriku yang benar benar lunglai melayani lelaki tua itu.

Keduanya pun tertidur karena kelelahan.

Sekitar pukul tujuh malam, istriku terbangun dan langsung mandi keramas. Istriku mengenakan stelan blaser dan rok span coklat muda malam itu dan kulihat istriku tanpa mengenakan BH dan celana dalamnya berhias diantara dua ranjang berdiri di depan cermin.

Mbah Bejo tak lama kemudian bangun dan mandi. Begitu istriku selesai berhias, Mbah Bejo pun selesai mandinya tanpa menggunakan apapun sehingga batang kemaluannya yang sebesar lampu TL 40 watt dan ujungnya yang seperti jamur besar itu sudah menegang kaku.

Mbah Bejo mendekati istriku dari belakang dan memeluk tubuh istriku, tangan kirinya langsung meremas payudara kiri istriku, sedang tangan kanan Mbah Bejo langsung menelusuri perut istriku dan kemudian menyingkap rok span istriku bagian depan dan menyusupkan tangan kanannya menggerayangi selangkangan istriku.

Tak lama kemudian bunyi kecepak “cek cek cek” di selangkangan istriku pun terdengar dan istriku mulai mendesis desis “Heeeeh heeeh heeeeh mbaaaaah ???” Pantat bahenol istriku pun mulai menungging nungging dan tangan kiri Mbah Bejo membuka resleting rok span istriku dan menariknya ke atas

Kedua kaki istriku semakin terkangkang karena tangan kanan Mbah Bejo semakin gencar mengocok dan mengelus bibir vagina istriku yang semakin basah yang menimbulkan suara kecepak yang semakin keras di selangkangan nya. Tangan kiri Mbah Bejo mendorong tubuh istriku ke depan sehingga tubuhnya bertumpu di meja rias dan punggung istriku sejajar dengan kepalanya yang mendekati cermin meja rias.

Mbah Bejo kemudian memegang pangkal batang kemaluannya yang menegang kaku dan dari belakang mengarahkan ujung batang kemaluannya yang seperti jamur ke liang vagina istriku dan rintihan istriku pun terdengar:

“Mbaaaaah jaaaanggggggg ?. uuuppppppffff besaaaar mbaaaaah oooooh maaas ?. akuuu disetubuhi mbaaah Bejoooo ?.ooooh maaass mekaaaar membesaaaaar hheghghghgh sesaaak liang kuuuu maaaaas ??.ooooh menjuluuuuur ke dalam liaaangkuuu eeeeh eh eh eh akuuu ngaaaak kuaaaat maaaas akuuu keluaaaaaarrr ??..ngngngngngngngng ?..”istriku mengerang dengan hebatnya,pantat bahenolnya tersentak sentak sehingga batang kemaluan Mbah Bejo secara otomatis amblas seluruhnya ke dalam liang vagina istriku.

“Mmmmmppppfffffff kok membesssaaaaar ?.. oooooh ?.. semakiiin dalaaaaam maaaas ?..maaaas hheeeeghhh ?. mekaaaaaar ?.. ffffff ?. akuuuu mmmmmmngngngngngngngng ??.”istriku kembali mencapai orgasmenya ke dua malam itu atau ke tujuh sejak siang tadi disetubuhi Mbah Bejo.

Tubuh istriku limbung dan Mbah Bejo memeluk istriku yang sempoyongan karena lutut istriku tak kuat menahan berat tubuhnya sendiri karena tenaga istriku terkuras melayani nafsu syahwat lelaki tua itu yang terus mengenjot menyetubuhi istriku tanpa ampun.

Tubuh istriku pun terjatuh di ranjangku dan posisi kakinya di kepalaku sehingga terlihat jelas batang kemaluan Mbah Bejo tengah menyumpal liang vagina istriku yang tertelungkup.

“Mbaaaaah aku diboooooooor ???” rintih istriku dan kulihat Mbah Bejo tanpa mengenjot pantatnya, batang kemaluannya terlihat dengan jelas membesar mengecil dan rupanya memanjang memendek seperti mata bor melubangi kayu.

“Mbaaaaaah akuuuuu keluaaaaar lagiiiiiiii ??”rintih istriku mencapai orgasme yang ketiga malam itu dan batang kemaluan Mbah Bejo terus mengebor liang vagina istriku, dan istriku merintih berkali kali.

Selanjutnya istriku terus menerus mengerang dan orgasme ke 4 kalinya, Mbah Bejo menyetubuhi istriku sampai pagi dan entah berapa kali istriku mengalami orgasme, sehingga keesokkan paginya istriku sulit berjalan, kata istriku bibir vaginanya membengkak, hingga dengan terpaksa istriku tak memakai celana dalamnya pada hari ke dua seminar itu.
Cerita Sex Terbaru : Ngentot  Gadis Bahenol Di Gudang Supermarket

Cerita Sex Terbaru : Ngentot Gadis Bahenol Di Gudang Supermarket

Info Cerita Terlengkap | Bisa Ngentot  Info Terbaru  |  Cerita Dewasa  | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot |  Cerita Tante-tante | Seks Bergambar
 Cerita seks dewasa kali ini adalah cerita dewasa tentang pengalaman ngentot seorang laki-laki yang bekerja sebagai sales di sebuah supermarket di kota bandung, yang dimana peristiwa ini di mulai ketika seorang gadis manis yang bekerja di supermarket tersebut meminta bantuan untuk menggosokkan badan bagian belakangnya karena gatal. karena yang meminta bantuan adalah seorang gadis yang bahenol, seksi dengan badan yang montok dan payudara yang kenyal akhirnya laki-laki tersebut langsung saja menggaruk tanpa berpikir panjang. Dari situlah cerita seks dewasa ngentot dengan gadis cantik digudang supermarket ini bermula.

Cerita Sex Terbaru : Ngentot  Gadis Bahenol Di Gudang Supermarket




Cerita Seks Dewasa : Ngentot Dengan Gadis Cantik Di Gudang Supermarket



Aku bekerja sebagai sales assistant di sebuah supermarket Y di Bandung. Di tempat kerjaku ada seorang cewek bernama Ita. Ita adalah cewek yang paling akrab denganku. Segala masalahnya akan dia beritahukan padaku. Ita memang cantik, kulitnya putih, matanya bulat, buah dadanya pun membulat, tidak terlalu besar tapi cukup menantang membuat setiap laki-laki yang dekat dengannya ingin selalu menjamahnya. Siapapun yang melihat tubuh Ita pasti naik nafsu syahwatnya. Pantat Ita mengiurkan juga. Rambutnyapun panjang sebahu.
“Cerita dewasaku ngentot sama cewek cantik digudang supermarket tempat kerjaku“
Suatu hari Ita datang padaku”, Fer belakang badan Ita gatal-gatal nih”, Ita memberitahuku akan masalahnya.
“Tolong gosokkan ya, Fer” Ita menyuruhku.
“Kalau begitu kemarilah”, balasku dengan sedikit terkejut.
“Disini saja, di dalam gudang lebih nikmat” Ita memberitahuku dengan suara yang amat lembut dan begitu manja. Hatiku jadi cair.
“Fer” Ita menarik tanganku menuju ke dalam gudang yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.
Kemudian Ita mengunci pintu gudang itu, serta mengambil bedak antiseptik di rak yang berdekatan, lalu mengulurkannya kepadaku. Aku tak sungkan-sungkan lagi, terus saja menaburkan bedak itu di atas telapak tanganku. Ita menarik baju yang dipakainya ke atas hingga sebatas tengkuk. Aku menelan ludah melihat ke belakang badan Ita, yang selama ini tak pernah aku lihat tanpa busana. Aku menepuk bedak yang ada di tanganku ke atas badan Ita. Hangat badannya. Aku mulai menggosok. Sesekali Ita kegelian, ketika aku mengurutkan jariku pada alur di tengah belakang badan Ita. Aku menggosok rata. Ita meraba-raba kancing BH-nya, lalu dilepaskannya, maka terurailah tali BH-nya itu di belakang badannya itu. berdesir darahku, aku menelan air liur, melihat aksi Ita yang berani itu tadi. Aku terus menggosok, dengan hati yang berdebar-debar. Aku merasa batang penisku sudah mulai mengeras. Aku merasa tak tahan. Tengah menggosok belakang badan Ita, tanganku secara perlahan-lahan merayap ke dada Ita.
“Hei! Apa-apaan nih”, Ita melarang sambil menepuk tanganku.
“Ohh! sorry”, aku meminta maaf.
Tanganku kembali ke bekakang. BH yang Ita pakai masih melekat di dadanya, menutupi buah dadanya yang mungil itu. Aku terus menggosok, kali ini turun sampai ke batas pinggang. Aku memberanikan diri mengurut ke dalam rok Ita, tetapi Ita menepuk lagi tanganku.
“Jangan!”, larang Ita lagi.
“Sudah hilang belum gatal itu?”, Tanyaku pada Ita.
“Belum!” jawab Ita pendek.
Aku merasa semakin terangsang, batang penisku semakin mengeras dan mula tegang! Aku coba lagi untuk meraba ke dada Ita, kini aku telah dapat memegang buah dada Ita yang lembut itu, yang tertutup dengan BH berwarna putih. Ita tidak lagi menepuk tanganku tetapi dia memegang tanganku yang aku takupkan pada payudaranya itu. Aku mulai meremas buah dada Ita. Ita menggeliat geli sambil tangannya memegang pergelangan tanganku. Ita nampak sudah mula merasa terangsang, dan memang ini adalah salah satu cara untuk membuat wanita terangsang. Aku mencium tengkuk Ita. Dia masih menggeliat-geliat akibat remasan serta ciumanku. Buah dadanya aku rasa sudah semakin menegang. Jariku kini memainkan peranan memilin-milin puting susu Ita pula! Aku sadari tadi memeluk Ita dari belakang. Batang penisku yang beberapa waktu lalu telah aku gunakan obat memperbesar penis tambah semakin keras menonjol itu aku gesek-gesekkan pada alur pantat Ita. Ita ketawa kecil, merangsang sekali! Ita membuka kancing bajunya dan terus menanggalkannya berserta BH-nya dan mencampakkannya di atas lantai.
Kini payudara Ita tak tertutup apa-apa lagi. Aku terus meremas-remas dan membalikkan badan Ita supaya berhadapan denganku. Ita menciumku rakus sekali, sambil mengulum-ngulum lidahku. Akupun begitu juga membalas dengan rakus serangan Ita. Aku menanggalkan bajuku. Ita mencium dadaku, perutku. Aku tetap mengecup-ngecup buah dada nya yang sudah mengeras tegang. Tanganku menekan-nekan pantatnya. Batang penisku semakin menegang. Tiba-tiba Ita berlutut, lalu membuka retsleting celanaku. Dia menarik keluar batang penisku yang tegak keras. Ita merasa kagum melihat batang penisku yang menegang secara maksimal itu. Ita menguak rambutnya ke belakang dan meng-”karaoke” batang kejantananku. Dia menggengam dengan rapi. Sambil mengulum secepat-cepatnya, tapi untung saja sebelumnya saya sudah memakai obat kuat lelaki hingga tidak cepat ejakulasi saat di kulum oleh ita.
Ita mengarahkan batang penis ke matanya, hidungnya, ke pipinya. Ita mencium sekitar batang penisku. Aku merasa nikmat sekali. Ita terus mengulum penisku hingga ke pangkal makin lama semakin cepat. Aku merasa kepala penisku terkena anak tekak Ita. Ngilu rasanya! Aku juga membantu Ita dengan mendorong dan menarik kepalanya.
“Ita, sudah hampir keluar! Sudah hampir keluar! Ita sengaja berlagak tak tahu saja, ketika aku katakan maniku sudah hendak keluar. Ita masih mengulum. Air maniku tersemprot memenuhi rongga mulut Ita. Dia lantas mencabut keluar penisku lalu menjilat-jilat air maniku. Dia nampaknya menikmati sekali. Penisku jadi lembek kembali!
“Aik! belum apa-apa sudah lembek”.
Ita mengulum lagi penisku. Penisku jadi tegang lagi. Ita tersenyum memandangnya. Aku membuka celana. Ita duduk di atas meja. Aku berlutut menarik rok dan celana dalamnya. Ita sudah bugil di depanku. Bulu yang tipis warna pirang menutupi vaginanya. Aku mencium sekitarnya. Ita meletakkan kedua belah kakinya di atas bahuku. Aku mengangkangkan paha Ita. Bibir vaginanya sedikit terbuka. Aku menjilatinya. Aku buka sedikit dengan jari lalu mengoreknya sedikit demi sedikit jariku menyodok vagina Ita.
“Argh, argh, argh!” Ita mengerang perlahan. Vaginanya terlihat basah sekai. Aku meletakkan kepala penisku ke pintu vaginanya. Aku sodok sedikit, “Argh!” Ita mengerang lagi. Laku aku tekan lagi. ” Yes!” suara Ita perlahan. Aku menyodok lagi dalam sedikit dan terus ke pangkal. Aku mendorong dan menarik berulang kali. Ita makin terlihat lemas dan nikmat. Aku merasa kehangatan lubang vagina Ita. Ita mencabut penisku keluar. Dia turun dari atas meja dan mendorongku telentang lalu duduk di atas badanku dan memasukkan lagi penisku ke dalam lubang vaginanya itu. Dia mengayun ke atas dan ke bawah.
Tak lama dia tarik keluar lagi penisku. Ita kini agresif. Aku mendorongnya telentang lagi. Ita merapatkan payudaranya dengan kedua belah tangannya.
“Masukin di celah susuku dong! Masukin di celah susu ah..!” Ita menyuruhku. Aku tidak sungkan-sungkan lagi terus melakukannya tapi sebentar saja. Aku duduk dan Ita masih telentang, pahaku di bawah paha Ita, aku sodok lagi penisku ke dalam vaginanya. Aku mengayun dengan perlahan. Licin dan sedap rasanya Ita bangun dan bertiarap di atas meja, kakinya lurus ke lantai menungging! Akupun berdiri lalu membuat ‘dog style’. Aku pegang kiri dan kanan pantat Ita dan mengayun lagi. Aku kemudian menyangkutkan sebelah kaki Ita di atas bahuku dalam posisi telentang. Aku sodok lagi tarik dan keluar dorong dan masuk ke dalam vaginanya, pokoknya malam itu kami merasakan kepuasan bersama dengan mencoba segala posisi.

Diajak Ml Ibu Dosen

Info Cerita Terlengkap | Bisa Ngentot  Info Terbaru  |  Cerita Dewasa  | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot |  Cerita Tante-tante | Seks Bergambar

Diajak Ml Ibu Dosen, Saat itu aku masih duduk di semester 6 di salah satu perguruan tinggi Bandung, cerita sexku ini berawal saat aku lagi putus dengan pacarku, memang pacarku itu orangnya agak ribet sudah aku cintai malah dia bertingkah yang tidak mengenakan hatiku, dan akhirnya hubungan kami hanya bertahan 1 tahun, dia orangnya cemburuan karena posisiku disaat itu amengontrak rumah dengan 5 orang.

Cerita Ngentot :Diajak Ml Ibu Dosen


Cerita Mesum Gairah Tinggi Ibu Dosen
Kebetulan aku diajak kakaku untuk ikut dengannya jadinya aku disanan laki laki sendiri, awalnya aku ingin mencari tempat kos sendiri tapi karena kakakku sayang sekali padaku, aku tidak diperbolehkan pisah rumah, dan aku pun tinggal bersama teman kakakku kesemuanya wanita.

Diantara 4 teman kakakku ada salah satu yang menjadi dosen di Kampus lain, namanya Vita kesemuanya memanggil dengan nama Ibu karena dia tertua disini umurnya sekitar 40 tahun tapi masih sendiri belum menikah, saat aku berdua dengan ibu Vita. Dia bertanya.

“Lhoo kamu kok sendirian dan akhir akhir ini saya lihat kamu sering ngalamun”jangan jangan ngalamun dengan mantan paarmu itu ya”

“heeeehee ibu tau aja ya begitulah ibu”jawabku

Memang aku juga sering curhat soal pribadi dengan ibu Vita, karena dia sudah aku anggap seperti kakak keduaku dan tahu akan banyak hal.

“pantesan saja kamu akhir akhir ini selalau murung memikirkan dia terus ya???”

Sering aku bercerita dengan Ibu Vita sampai suatu ketika terjadi kejhadian tersebut.

Begitu dekatnya aku sama Ibu Vita sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Vita. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah.

Siang itu tepat jam 11:00 siang saaat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.
“Eh Ibu Vita, nggak ngajar Bu?” tanyaku.

“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.

“Habis sakit Bu”, kataku.

“Sakit apa sakit?” goda Ibu Vita.

“Ah… Ibu Vita bisa aja”, kataku.

“Sudah makan belum?” tanyanya.

“Belum Bu”, kataku.

“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya”, katanya.

Dengan cekatan Ibu Vita memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks.

Kukira Ibu Vita nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.

“Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.

“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.

“Oh kalau gitu Ibu Vita masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis”, kataku.

“So pasti dong”, katanya.

“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kimpoi”, dengan enaknya aku nyeletuk.

“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya.

Ibu Vita agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Vita kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya.

“Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Vita”, kataku.

“Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.

Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Vita terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan,

“Aku sayang kamu, Ibu Vita”, tapi dia tidak menjawab sedikitpun.

Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup… dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya.

Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh… tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya.

Kukecup, “Aah… cup… cup… cup…” dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.

“Aah… jangan panggil Ibu, panggil Vita aja ya!”

Kubisikkan Ibu Vita, “Vita kita ke kamarku aja yuk!”.

Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak… indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya.

“Ah… ssh… terus Ian”, Ibu Vita tidak sabar lagi,

BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian,

“Aah… sssh…” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut,
“Aah… aku juga sudah mulai terangsang.

Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu… cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu,

“Aah… uh… sssh… Ian kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi”,

Sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Vita juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku.

“Oh… besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku,

“Uuh… uh… shhh..” dengan cermat aku berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya,

“Aah… uh… ssh….. terus Ian”, Vita mengerang.

“Aku juga enak Vita”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut,

“Assh… oh… ah…. Vita terus sayang”,

Dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk… uh… ssh…..” sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kuubah posisi, kembali memanggut bibirnya.

Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku,

“Aakh… sshh… pelan-pelan ya Ian, aku masih perawan”, katanya.

“Haaa…” aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci.

Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blessst,

“Aahk…” teriak Vita,

kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Vita

“Aakh… ushh… usssh… ahhhkk… aku mau keluar Ian”, katanya.

“Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh…” kataku.

Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan

“Crot… crot… cret…” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya.

“Aakh…” aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya.

Dengan lembut dia cium bibirku, “Kamu menyesal Ian?” tanyanya.

“Ah nggak, kitakan sama-sama mau.”

Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Vivien hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Vivien menjadi pacar gelapku.

Cerita Mesum : Bermain Sex Setiap Hari


Info Cerita Terlengkap | Bisa Ngentot  Info Terbaru  |  Cerita Dewasa  | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot |  Cerita Tante-tante | Seks Bergambar
Tak Bisa Menahan Erangan. Dengan rasa suntuk dan sendirian dirumah, rasanya bĂȘte sekali aku browsing untuk pemutaran film di bioskop kebetulan film yang aku tunggu ditayangkan pukul 1 siang, maka aku putuskan untuk pergi ke bioskop sendirian, Nama aku Aufa sebelum berangkat aku bercermin dikamarnya dengan pakaian tengtop dan tonjolan payudaranya yang lumayan besar, rok mini yang ketat memperlihatkan kulit yang mulus dan bersih langsung berangkat menuju ke bioskop.

Cerita Mesum :Bermain Sex Setiap Hari



Cerita Mesum :Bermain Sex Setiap Hari
Di dalam ruang teater , susananya cukup penuh , karena ini adalah pemutaran perdana alias premiere.
Aufa menempati tempat duduknya , dan sementara film belum mulai diputar , pikiran Aufa melayang , memikirkan tentang mantannya dan masa masa indah dulu.

“maaf…permisi mbak …numpang lewat…….” sebuah suara mengaggetkan Aufa.

seorang pria tampan tampak tersenyum pada Aufa , tatapan pria itu menimbulkan perasaan aneh pada diri Aufa.

“ooh..ya ..maaf…” kata Aufa tersadar dan memberi jalan untuk pria itu lewat, dan ternyata pria itu duduk tepat disebelahnya.

setelah duduk pria itu kembali menatap Aufa,, tersenyum dan mengucapkan terima kasih, perasaan aneh pada diri Aufa kembali muncul, entah apa…. Aufa tak mau terlalu ambil pusing , film sudah dimulai.

Film sudah berjalan setengahnya , saat Aufa merasakan ada yg menyentuh lengannya, ia menoleh dan melihat pria itu sedang mengelus elus lengan Aufa tapi tatapan matanya tetap pada layar.

Aufa bisa saja marah dan memaki maki pria kurang ajar itu , namun entah mengapa ia membiarkan pria itu mengelus elus lengannya.

merasa tak ada penolakan dari Aufa , pria itu terus mengelus elus lengan Aufa, sambbil terus menatap pada layar.

Aufa sendiri hanya terdiam nafasnya seolah terhenti , ia tak bisa ( atau tak mau) menolak perlakuan pria itu , ia malah memejamkan mata seolah menikmati sentuhan demi sentuhan yg dilakukan oleh pria disebelahnya. Getaran getaran di tubuhnya terasa semakin kuat.


Aufa segera membuka mata dan tubuhnya bagai kena sengatan listrik saat ia merasakan tangan pria itu melewati lengannya dan menyentuh buah dadanya, awalnya hanya sentuhan sentuhan kecil , namun ketika kembali tak ada reaksi penolakan dari Aufa , sentuhan pria ini berubah menjadi remasan remasan yg membangkitkan bbirahi Aufa.

Dengan sedikit takut Aufa meoleh ke penonton di sebelahnya , ternyata org itu serius menonton.

Pria asing itu terus menerus meremas buah dada Aufa, menyebabkab puting Aufa perlahan mengeras tanda Aufa sudah sangat terangsang.

Pria itu sepertinya tahu hal itu , maka dengan berani tangannya menelusup masuk ke balik tank top Aufa dan menyentuh langsung buah dada itu.

tiba tiba handphone penonton disebelah berbunyi , membuat pria itu dengan segera menarik tangannya dan duduk manis seolah tak ada apa apa.

Aufa sendiri masih bingung apa yg terjadi , ia sama sekali tak kenal pria ini tapi …kenapa ia membiarkan pria itu berbuat kurang ajar padanya , membiarkan menyentuh tubuhnya , bahkan saat ini birahi Aufa semakin naik dan berharap pria ini kembali menyentuhnya.

Setelah beberapa menit , Aufa merasakan ada yag menelusup masuk ke balik rok pendeknya, mengelus elus paha mulusnya.

Aufa hanya menarik nafas panjang sambil menatap pria itu, dan seperti sebelumnya sambil menyentuh Aufa pandangan pria itu masih terarah pada layar.

Aufa mengerang tertahan saat sentuhan pria itu tiba di bagian sensitifnya , jari jari pra itu bergerak menggeliitk dengan gerakan putaran, tanpa sadar Aufa semakin melebarkan kakinya.

Aufa semakin terangsang dengan sentuhan erotis pria itu , vaginanya sudah mulai basah.

bahkan dalam diri Aufa ingin membalas perlakuan pria itu , dan menyetuh penisnya , ia seolah ingin penis pria itu masuk ke mulutnya.


Aufa memandang pria itu , yg ternyata juga sedang memandangi Aufa.
Mereka berdua saling berpandangan cukup lama , sampai akhirnya pria itu tersenyum dan bangkit sambil menarik tangan Aufa unutk ikut dengannya , Aufa sendiri dengan patuh ikut dengannya.

Dengan berdebar debar penuh gairah , Aufa mengikuti pria itu dan masuk ke toilet wanita, saat itu toilet sedang kosong.

Setelah mengunci pintu , mereka berciuman dengan ganasnya seolah mereka sepasang kekasih yg telah lama tidak bertemu.

Pria itu menarik pinggang Aufa dan merangkul erat tubuh molek gadis itu , Aufa bisa merasakan tonjolan penis pria itu menyentuhnya.

Ciuman mereka semakin ganas , lidah merak saling menyapu , pandangan mata mereka memancarkan gairah yg tak tertahankan.

Sambil terus berciuman, tangan pria itu beraksi di balik tank top Aufa , dan meremas remas nya sedikit keras, sampai akhirnya pria itu melepas tank top itu.

Pria itu menggemgam bulatan buah dada Aufa, menurunkan kepalanya dan mulai menjliati buah dada yg indah itu.

Ia menjilati puting Aufa dengan ujung lidah , meniupnya pelan , membuat Aufa bergidik dan geli, dilanjutkan dengan mengulum dan menyedot buah dada itu , lidahnya bergerak gerak memutar , membuat Aufa merintih nikmat , meresapi sensasi sensual ini.

Aufa kemudian menurunkan tubuhnya membuka kancing celana pria itu dan menurunkannya.

Pria itu hanya tersenyum menatap Aufa , saat Aufa juga menurunkan celana dalam yg mengurung penisnya.

Tak membuang waktu , Aufa menggengam penis itu ,menjliati dan mengulumnya sehingga makin mengeras.

Aufa bisa merasakan denyutan penis itu saat beraksi dengan jilatannya. Ujung kepala penis itu Aufa jilati memutar dengan lidahnya lalu kemudian dikulumnya beberapa saat dan diulang kembali, terus sampai Aufa semakin kuat menyedotnya.

nafas pria itu terdengar semakin berat menahan birahi.


Denyutan penis itu dirasakan Aufa semakin kentara saat tak lama kemudian memuntahkan isinya , langsung masuk ke tenggorokan Aufa.

Semburan spermanya ternyata cukup banyak ,Aufa tak mampu menelan semuanya , sebagian menetes diantara bibirnya yg manis. tanpa merasa jijik Aufa menelan cairan asin itu dan menjilati sisa sia yg menempel di penis pria itu.

“giliran saya…” kata pria itu samil mendorong Aufa ke dinding.

Pria itu melepaskan rok mini Aufa dan tentu saja bersama dalamannya.

Pria itu menciumi pangkal paha Aufa , menjilatinya , memainkan lidahnya di bibir vagina dan clitnya membuat Aufa tersiksa oleh kenikmatan.

Jilatan lembut pria itu diselingi dengan sedotan sedotan yg membuat Aufa makin menggelinjang tak tertahankan, mengetahui Aufa sudah terangsang tak tertahankan. pria itu berdiri dan tanpa basi basi langsung menusuk vagina itu dengan penisnya.

“aaaauhhhhhwhw….” Aufa mengerang saat penis itu menerobos masuk ,untuk memudahkan pria itu menagngkat kedua kaki Aufa dan kemudian mulai mendorong dorong keras penisnya masuk semakin dalam.
Aufa tak bisa menahan erangannnya , mulutnya terus merintih dan mengerang menikmati serangan demi serangan.

tiba tiba si pria mencabut kembali penisnya , membalikan tubuh Aufa , sedikit dibungkukkan dan menembusnya kembali dari belakang.

Aufa kemudian menyadari dalam posisi seperti ini , ia tak mungkin mencapai orgasme , maka ia memaksa pria itu mencabut kembli penisnya , medorongnya duduk di toilet, dan Aufa naik ke atasnya.
Aufa mencari posisi yg tepat ,, hingga penis pria itu kembali menembusnya .

posisi seperti itu ternyata menguntungkan juga bbagi pria itu , ia bbisa meremas buah dada yg menggemaskan itu . setiap Aufa bergerak buah dadanya turut bergoyang menggoda.
Butuh waktu yg agak lama sampai akhirnya mereka mencapai puncak dari kenikmatan permainan mereka.

Setelah puas mereka kembali berpakaian dan secara terpisah kembali ke tempat duduk masing masing ,
dan saat film usai . si pria asing itu tersenyum pada Aufa dan menjatuhkan sebuah kartu nama pada pangkuan Aufa.

Aufa membaca nama dan alamat di kartu nama itu dan berpikir apakah ia akan menemui orang asing itu lagi , dan berpikr kira kira…permainan seru apalagi yg akan ia jalani bersama pria itu..?
entah……..namun Aufa berpikir spertinya menarik…dan akan sangat menyenangkan.